DAERAH

Kongres HMI Ke XXXII di Kendari, Eggi Sudjana Soroti Ketimpangan Sosial


Kendari, OborSultra.com – Anggota Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MN KAHMI) DR. Hamdan Zoelva S.H., M.H., secara resmi membuka Kongres HMI Ke XXXII di Hotel Claro Kendari, Minggu (1/3/2020).

Hamdan Zoelva mengharapkan Kongres HMI Ke XXXII ini bisa melahirkan keputusan-keputusan penting, termasuk revitalisasi organisasi HMI agar setiap kadernya mampu mengahadapi tantangan kehidupan pada masa sekarang dan akan datang. Untuk itu menurutnya latihan kepemimpinan yang selama ini, tidak lagi lebih banyak ke politik tapi dalam penguasaan di bidang lain.

Baca juga : Kongres HMI Ke XXXII di Kendari Dihadiri Menkopolhukam Mahfud MD

“Problem besar pada masa sekarang ini adalah ketimpangan dan keadilan sosial,” ujarnya.

Sementara itu, DR. H. Egi Sujana. SH., M.Si., yang hadir mengatakan merasa bangga dengan perubahan yang terjadi sekarang ini dibandingkan pada awal-awal dirinya bergabung dengan HMI tahun 1979 pada era Orde Baru dimana saat itu kegiatan konggres seperti sekarang ini bisa diadakan di pelosok dan sembunyi-sembunyi.





“Jaman saya, kita konggresnya sembunyi-sembunyi, bersyukur kita bisa dihadiri oleh pejabat,” ujarnya.

Egi Sujana menambahkan, HMI harus tetap berfungsi sebagai organisasi kader, organisasi kader yang menurutnya mempunyai ciri mampu mempengaruhi, dalam pengertian politik, membuat kebijakan-kebijakan yang kondusif untuk kepentingan rakyat dan berharap kader HMI bisa aktif dalam pembuatan kebijakan yang bisa mewujudkan kesejahteraan rakyat.

“Dengan adanya pak Mahfud [kader HMI] sebagai menteri Polhukam, kita berharap kebijakan itu kondusif untuk kesejahteraan rakyat, itu pokok penting dalam kaderisasi,” ujarnya.

Dia berharap kongres HMI kali ini bisa melahirkan keputusan yang membangun sembari menyoroti tumpang tindih kebijakan soal pendidikan yang dinilainya masih sekuler.

Ket foto : Pembukaan Kongres HMI Ke XXXII dibuka Resmi bertempat di Hotel Claro Kendari, Minggu (1/3/2020).

“Kurikulum pendidikan sekarang ini kan sekuler, antara pendidikan umum dibawah Kemendiknas dan Kemenag. Harus ada kebijakan agar menyatu kurikulum antara kemendiknas dengan kemenag untuk kepentingan bangsa Indonesia kedepan agar tidak sekuler,” ujar Egi.(sul)

Dia juga menyoroti ketimpangan sosial yang ada dengan merujuk pasal 33 ayat 3 yang menyebutkan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

“Sedihnya kita di Kendari banyak nikel, sumber daya alam lain tapi dikuasai oleh siapa? tidak untuk rakyat jadinya,” ujarnya.

Baca juga : Gubernur Ali Mazi Diminta Segera Hentikan Dugaan Pertambangan Ilegal di Kolaka Utara

Terkait maraknya pekerja asing yang bekerja di sejumlah pertambangan di Sultra, Eggi Sujana menghimbau agar pembuat kebijakan mendahulukan kepentingan rakyat Indonesia.

“Harus mendahulukan kepentingan rakyat Indonesia, karena ada diatur didalam pasal 27 ayat 2 UUD 45, rakyat harus diberikan pekerjaan yang layak,” ujar Egi.

“kalau diberikan kepada rakyat lain, ini adalah penghianatan konstitusi,”pungkasnya.(sul)


Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close