ADVERTORIAL

Pelajaran Yang Bisa Dipetik Dari Afghanistan (Bagian I)

"Pasukan AS terakhir yang keluar meninggalkan Bandara Kabul berjalan dengan kepala tertunduk"


OborSultra | Bagian I

Hengkangnya pasukan AS yang semrawut dan beresiko dari Kabul telah memunculkan banyak pandangan negativ dengan komentar yang mengarah pada satu kesimpulan (univokal) tentang kekalahan-kekalahan AS. Hanya segitu?


Tentu saja, kekalahan itu bersifat politik dan militer, tetapi gambaran keseluruh tentang apa yang terjadi lebih kompleks dan diartikulasikan.

Baca Juga:

Amerika Serikat pada dasarnya sudah berupaya namun gagal untuk menang, tetapi entah bagaimana, sebenarnya Amerika Serikat lebih tertarik dengan kehadiran (pengaruh) mereka di Afghanistan daripada kemenangan dengan aksi militer.

Jadi mari kita lihat kedua aspek tersebut secara terpisah. Dari sudut pandang politik dan militer, dengan tanpa keraguan ini adalah kekalahan bagi Amerika Serikat.

Setelah dua puluh tahun pendudukan yang tidak mencapai tujuan yang jelas, bahkan untuk bisa mengumumkan Taliban telah dikalahkan dan kembalinya negara itu ke kancah internasional. Tapi yang substansial terjadi justru hengkangnya pasukan AS dan masuknya pejuang Taliban ke ibu kota Kabul yang merupakan hasil dari sebuah perjuangan Taliban.

Di era perang modern, aspek simbolis, baik untuk ikon konflik sebagai tonggak sejarah maupun untuk narasi yang seragam, memiliki bobot nilai yang sangat besar.

Nah, dari sudut pandang ini tampaknya menjadi bencana bagi AS, karena tentu dapat dikatakan bahwa kesan meninggalkan negara di Asia Tengah tersebut lebih mirip dengan pelarian daripada jalan keluar.

Pasukan AS terakhir
Pasukan AS terakhir yang keluar meninggalkan Bandara Kabul berjalan dengan kepala tertunduk (Jonathan Gifford / UK MOD Crown Handout / Reuters)

 

Apalagi, gambarannya kontras dengan kejadian sejarah saat penarikan pasukan Uni Soviet keluar dari Afghanistan, yang lebih militeristik dan teratur (dengan parade militer dan upacara besar).

Fakta bahwa ada hal yang sudah disepakati dengan Taliban mengenai cara dan waktu penarikan pasukan, AS melakukannya tanpa ada kordinasi dengan sekutunya di lapangan, Amerika Serikat mempertontonkan hal yang sama untuk kesekian kali kepada 25 negara NATO lainnya.

Aspek simbolis lain, tetapi penuh dengan makna, dapat ditangkap dalam adegan dramatis dimana orang-orang yang dievakuasi untuk melarikan diri dan yang bahkan, dengan putus asa ada yang berpegangan pada roda pesawat dan akhirnya jatuh dari udara.

Ini tentang peran dan nasib mereka yang bersekutu dengan Amerika Serikat dalam pendudukan militer. Mereka adalah kolaborator yang, kadang-kadang karena keyakinan politik, lebih sering karena faktor ekonomi, tanpa diragukan memainkan peran penting dalam logistik, spionase, dan bantuan kepada pasukan pendudukan.

Nah, ketika AS memutuskan untuk meninggalkan wilayah pendudukan tersebut, mereka tidak lagi memiliki tempat untuk berlindung, dengan kata lain: mereka ditinggalkan sebagai alat yang tidak berguna dan dibiarkan terkena balas dendam musuh yang tidak akan melupakan di pihak mana mereka berada.

Simbol dan kekuatan gambar oleh karena tidak meninggalkan ruang untuk interpretasi yang berbeda dari yang sudah terlihat dan terjadi di masa lalu. Seperti foto helikopter yang naik dari atap kedutaan AS mengingatkan pada Saigon 1975 setelah tercapainya kesepakatan Paris.

helikopter yang lepas landas dari atap kedutaan AS
Foto helikopter yang lepas landas dari atap kedutaan AS mengingatkan pada Saigon 1975 (sumber: altrenotizie.org)

Yang mengingatkan semua orang, baik sekutu maupun musuh, bahwa sejak 1945, telah menunjukkan bahwa Amerika Serikat tidak dapat memenangkan perang apa pun.

Dengan pengecualian invasi AS ke pulau kecil Grenada dan Panama, di mana sejumlah besar pasukan dan angkatan udara yang mengenai sasaran sipil berhasil menang (dan tentu saja tidak dengan mudah), dari Vietnam ke Korea, dari Irak ke Suriah, dan akhirnya ke Afghanistan dimana Pasukan AS terakhir keluar meninggalkan Kabul dengan kepala tertunduk, setelah menghancurkan semua yang mereka bisa hancurkan, tetapi tetap saja Amerika Serikat tidak pernah berhasil menang.

Pesannya jelas: tidak peduli kesenjangan teknologi yang sangat besar dalam persenjataan, kekuatan ekonomi, keuangan, politik dan diplomatik yang dapat mereka gunakan. Prajurit Amerika Serikat tidak menang, kecuali jika nanti ceritanya dibuat dalam versi film Hollywood.

Penulis : Fabrizio Casari, adalah seorang jurnalis dan direktur portal berita independen www.altrenotizie.org.
Editor dan Terjemahan : Day Kurniawan



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker