ADVERTORIAL

Pelajaran Yang Bisa Dipetik Dari Afghanistan (Bagian II)

"Perang memiliki implikasi ekonomi, dengan triliunan dolar yang mengalir ke industri militer AS"


OborSultra | (Bagian II)

Berbicara tentang kekalahan politik dan militer yang lengkap meski lebih tepatnya “tidak lengkap”. Karena Amerika Serikat bermaksud menduduki negara itu adalah untuk mendapatkan keuntungan geopolitik dan keuangan, bukan hanya untuk mencapai kemenangan dibidang militer, seperti yang selama ini diketahui banyak orang, adalah tidak mungkin. Mengingat bentuk wilayah Afghanistan dan dukungan rakyat yang dipegang dan dikuasai oleh Taliban, meskipun ini kedengarannya aneh.


Di sisi lain, korban warga sipil yang disebabkan oleh tentara Amerika, yang disertai ketidaktahuan dalam memburu Taliban, tentu tidak mengurangi konsensus para mantan mahasiswa teologi atau meningkatnya konsensus dari koalisi negara-negara NATO.

Baca Juga:

Amerika Serikat, sejak menyerbu Afghanistan pada 2001 sudah mengetahui bahwa Taliban tidak ada hubungannya dengan serangan yang terjadi pada Menara Kembar(WTC), New York.

Peristiwa serangan WTC 9-11
Peristiwa serangan 9/11 pada menara kembar WTC, New York. (foto:BBC News)

Amerika Serikat tahu betul siapa Taliban itu, karena mereka berasal dari pejuang Mujahidin, yang juga ikut di ciptakan oleh AS untuk memerangi Uni Soviet. Mereka tahu bahwa mereka sama sekali tidak terkait dengan peristiwa 9/11 dan jika AS benar-benar ingin menyerang biang keroknya (pelaku semua orang Saudi kecuali satu orang dan Osama bin Laden adalah juga orang Saudi), mereka seharusnya menyerang Ryad, pencipta, pemodal dan pendukung politik Taliban, begitupun Al-Qaeda dan ISIS.

Dan bukan hanya Saudi, yang melatih pasukan Taliban dan melatih intelijen mereka adalah Dinas Rahasia Pakistan, sekutu historis CIA, mereka juga yang menghianati bin Laden setelah memberinya perlindungan selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, kehadiran AS di Afghanistan tidak ada hubungannya dengan serangan New York: itu adalah operasi yang memicu masuknya kembali kekuatan militer AS dalam skala besar untuk mendukung proyek kontrol Asia Tengah sebagai tindakan menahan laju pengaruh China dan Rusia dikawasan tersebut.

Perang memiliki implikasi ekonomi, dengan triliunan dolar yang ditagih oleh industri militer AS dan oleh sisi ekonomi yang semakin luas.

Bisnis kembali produktif: kompleks industri militer, yang tetap menjadi kekuatan pendorong nyata ekonomi AS, telah memiliki kesempatan untuk mengantongi miliar demi miliar, untuk mengurangi persenjataan NATO yang sekarang juga harus dipasok, dengan alasan persenjataan mereka yang sekarang harus dimodernisasi.

Semuanya “buatan AS”, sebagai suatu keharusan bagi anggota Aliansi Atlantik. Tidak ada pengecualian, diketahui betul oleh Ankara.

Untuk ini kita harus menambahkan perkembangan perusahaan kontraktor alat-alat militer yang bertambah berjaya, yang sekarang menjadi pelengkap militer dan ekonomi yang otentik untuk setiap petualangan Amerika dan sekutunya.

Tapi bisnis inti sebenarnya adalah opium. Sejak kedatangan tentara AS hingga saat ini, omset dari produksi dan penjualan opiat (heroin secara signifikan) telah tumbuh 40 kali lipat.

Ini jelas telah berkontribusi pada pengenalan lebih banyak obat dan oleh karena itu menjadikan harga yang lebih rendah di pasaran; mungkin bukan kebetulan bahwa AS adalah pengguna narkoba terbesar di dunia.

Ladang Opium di Afghanistan
Ladang Opium di Afghanistan (ist/net)

Apalagi, hasil dari narkoba tentu tidak bisa dilacak secara fiskal. Ini adalah jumlah uang yang sangat besar yang oleh Senat dan Kongres tidak di izinkan penggunaannya digunakan untuk operasi klandestein (operasi rahasia) yang digunakan CIA dan badan sejenisnya untuk strategi destabilisasi mereka di empat penjuru bumi.

Penulis : Fabrizio Casari, adalah seorang jurnalis dan direktur portal berita independen www.altrenotizie.org.
Editor dan Terjemahan : Day Kurniawan



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker