INTERNASIONAL

Setelah India, Inggris dan Prancis, Jerman Kirim Kapal Perang ke Laut China Selatan Bergabung dengan Negara Barat Lawan China

"Kami ingin hukum yang ada dihormati, rute laut dapat dilewati secara bebas, masyarakat terbuka dilindungi, dan perdagangan mengikuti aturan yang adil"


Jakarta, OborSultra | Jerman mengirim kapal perang ke Laut China Selatan pada Senin untuk pertama kalinya sejak 2002 ketika ketegangan berlanjut atas klaim China atas wilayah tersebut.

Kapal perang fregat yang dikenal sebagai Bayern (Bavaria), berangkat dari pangkalan angkatan laut Jerman Wilhelmshaven pada hari Senin dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh menteri pertahanan negara itu, Annegret Kramp-Karrenbauer.


“Bersama dengan sekutunya, Jerman ingin menunjukkan lebih banyak kehadiran di [wilayah] Indo-Pasifik,” kata angkatan laut Jerman dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari voanews.com.

Baca Juga:

China menyatakan bahwa sebagian besar wilayah hampir 1,3 juta mil persegi di Laut China Selatan berada dalam wilayah kedaulatannya karena bahasa dalam Konvensi Hukum Laut. Negara komunis itu telah mendirikan berbagai pos militer di pulau-pulau buatan di wilayah tersebut, yang konon kaya akan minyak dan perikanan.

Amerika Serikat dan negara-negara lain, membantah klaim teritorial ini, dan Angkatan Laut AS secara teratur melakukan operasi di perairan yang melewati beberapa pulau ini. AS juga telah menerima dukungan dari sekutu dalam upaya untuk melawan klaim teritorial China atas wilayah tersebut.

China menentang misi AS, dengan mengatakan AS dan aliansinya itu pada dasarnya tidak membantu mencapai perdamaian atau stabilitas. Perlawanan AS terhadap China tidak hanya soal teritorial Laut China Selatan, tetapi juga menargetkan kebijakan keamanan nasionalnya.

Selain itu, misi AS berusaha untuk menggalang mitra untuk melawan kebijakan ekonomi dan luar negeri Beijing yang dianggap Barat semakin memaksa.

Sementara, pejabat Berlin mengatakan bahwa Angkatan Laut Jerman akan tetap berpegang pada rute perdagangan umum, seperti yang dilansi dari CNN pada Selasa (3/8/2021).

Kapal perang Jerman itu juga tidak akan berlayar melalui Selat Taiwan, aktivitas reguler AS lainnya yang dikutuk oleh Beijing. Pihak Jerman telah memperjelas bahwa misinya adalah menekankan fakta bahwa Jerman tidak menerima klaim teritorial China di Laut China Selatan.

Jerman bertindak atas dasar pertimbangan keamanan dan kepentingan ekonominya, karena China telah menjadi mitra dagang terpenting Berlin. Ekspor Jerman di sana telah membantu mengurangi dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi terbesar Eropa itu.

Menteri Pertahanan Jerman Annegret Kramp-Karrenbauer melakukan perjalanan ke pelabuhan Wilhelmshaven di Jerman untuk melihat fregat Bayern berangkat dalam perjalanan 7 bulan yang akan membawanya ke Australia, Jepang, Korea Selatan, dan Vietnam.

Kapal perang Jerman
Tentara Jerman berdiri di atas kapal fregat Angkatan Laut Jerman selama latihan di Laut Baltik, dekat Rostock, Jerman, [Foto: Fabian Bimmer/Reuters]
Kapal itu diperkirakan akan melintasi Laut China Selatan pada pertengahan Desember, menjadikannya kapal perang Jerman pertama yang melewati wilayah tersebut sejak 2002.

“Kami ingin hukum yang ada dihormati, rute laut dapat dilewati secara bebas, masyarakat terbuka dilindungi, dan perdagangan mengikuti aturan yang adil,” kata Kramp-Karrenbauer.

Baru-baru ini Kapal induk milik Inggris, HMS Queen Elizabeth, memasuki perairan Laut China Selatan pada Selasa (27/7/2021) dan tiba di Singapura. Negara-negara termasuk, Perancis, Jepang, Australia, dan Selandia Baru, juga telah memperluas aktivitas mereka di Pasifik untuk melawan pengaruh China.

Kapal induk terbaru Inggris tersebut tetap melanjutkan misinya meski China sudah berulangkali memberikan peringatan. Masuknya kapal induk Inggris ke Laut China Selatan tersebut merupakan ketegangan terbaru antara China dengan Inggris termasuk sekutunya seperti Amerika Serikat (AS) dan Australia.

1 2Laman berikutnya


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker