HUKUM

Pakar Linguistik Bahas Cuitan Natalius Pigai Yang Dianggap Rasis

"Pigai menyebut hal itu tak rasis karena tidak ada tanda koma di antara frasa orang Jawa Tengah dan frasa Jokowi dalam cuitannya."


Jakarta, OborSultra | Eks komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai menampik bahwa tuduhannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bermuatan rasis karena tidak ada tanda koma di antara frasa orang Jawa Tengah dan frasa Jokowi dalam cuitannya.

Dosen Linguistik dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia Untung Yuwono angkat bicara tentang cuitan Eks komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai itu.


“Begini, tanda baca atau pungtuasi itu berfungsi untuk membantu pemahaman pembaca atas gagasan yang disampaikan secara tertulis. Terkait cuitan mantan Komisioner Komnas HAM, ada atau tidak adanya tanda baca dapat membedakan makna,” kata Untung kepada wartawan, Minggu (3/10/2021).

Baca Juga:

“Saya masih belum memahami maksud Pak Pigai itu. Kalau berbicara soal rujukan atau referensi, baik orang Jawa Tengah, Jokowi dan Ganjar, maupun orang Jawa Tengah Jokowi dan Ganjar mempunyai makna perujukan atau makna referensial seperti yang saya jelaskan tadi, dengan perbedaan makna ketika digunakan tanda koma. Itu kalau saya ditanya tentang makna kalimat itu berbeda atau tidak dengan adanya tanda koma,” ujarnya.

Namun apabila ditanyai tentang makna adanya rasis atau tidak dalam konteks kalimat tersebut, Untung mengatakan hal itu dapat dibuktikan dalam proses hukum.

“Kalau saya ditanya tentang rasis atau tidaknya kalimat itu, tentu ada penjelasan lebih dalam yang tetap berbasis pada makna kalimat itu. Namun, tidak pada tempatnya saya menjawab jika ditanyai rasis atau tidak kalimat itu,” ungkap Untung.

“Intinya, apa yang disampaikan Pak Pigai benar bahwa makna kalimat itu berbeda jika ada tanda koma atau tidak dalam kalimat itu. Namun, untuk menjawab pertanyaan kalimat itu merujuk pada hal yang rasis atau tidak, ranahnya tentu tidak di media ini, namun dalam pembuktian hukum,” imbuhnya.

Untung Yuwono mencontohkan, dalam konteks pemakaian tanda koma, tanda koma dapat membedakan makna klausa yang membatasi dengan klausa yang tidak membatasi. Misalnya ‘Mereka, yang tinggal di Jakarta, dapat mengunjungi Monas dengan mudah kapan saja’. Dengan kata ‘mereka’ yang merujuk pada orang-orang tertentu, misalnya Ani, Banu, dan Caca, yang berbeda makna dengan ‘Mereka yang tinggal di Jakarta’ dapat mengunjungi Monas dengan mudah kapan saja.

“Dengan kata mereka yang tidak membatasi siapa yang dirujuk. Tanda koma juga dapat membedakan makna pada lingkungan kalimat yang di dalamnya digunakan kata sapaan dan yang tidak,” ujar Untung.

Ia kembali mencontohkan, dalam kalimat ‘Tolong sampaikan ini kepada mahasiswa semester dua Pak Untung’. Dan ‘Tolong sampaikan ini kepada mahasiswa semester dua, Pak Untung’. Untung menjelaskan, pada kalimat pertama, mahasiswa semester dua Pak Untung merupakan kesatuan sehingga makna yang muncul adalah ‘kepemilikan’ atau ‘mahasiswa semester dua milik Pak Untung’, sedangkan pada kalimat yang kedua kata Pak Untung merupakan kata sapaan (menyapa Pak Untung).

“Namun, kita lihat dalam kedua kalimat itu makna mahasiswa semester dua tetap sama, yaitu ‘mahasiswa yang menempuh studi pada semester kedua’, tidak dipengaruhi oleh ada atau tidaknya tanda koma sebelum kata Pak Untung,” ujarnya.

Sebelumnya, Eks komisioner Komnas HAM, Natalius Pigai menampik bahwa tuduhannya kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo bermuatan rasis. Pigai menyebut hal itu tak rasis karena tidak ada tanda koma di antara frasa orang Jawa Tengah dan frasa Jokowi dalam cuitannya.

Tuduhan itu disampaikan Pigai melalui akun Twitter-nya. Berikut isi cuitan Piagi yang tidak menggunakan tanda koma antara kata orang Jawa Tengah dan nama Jokowi.

“Jgn percaya org Jawa Tengah Jokowi & Ganjar. Mrk merampok kekayaan kita, mereka bunuh rakyat papua, injak2 harga diri bangsa Papua dgn kata2 rendahan Rasis, monyet & sampah. Kami bukan rendahan. kita lawan ketidakadilan sampai titik darah penghabisan. Sy Penentang Ketidakadilan).” demikian cuitan Pigai lewat akun Twitter-nya @NataliusPigai2 seperti dilansir dari detikcom, Sabtu (2/10/2021).(*ade)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker