INTERNASIONAL

Tertembak Mati Saat Demo Menentang Kudeta, Gadis Cantik Myanmar Sumbangkan Organ Tubuhnya

"Pesan duka dan pujian membanjiri halaman Facebooknya"


Jakarta, OborSultra.com – Tulisan “Everything will be OK,” pada kaus hitam yang dikenakan Ma Kyal Sin rupanya tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Pasalnya unjuk rasa anti-kudeta militer di Myanmar kembali merenggut nyawa, termasuk perempuan berusia 19 tahun tersebut.
Dilansir dari Reuters, Ma Kyal Sin, yang juga dikenal dengan nama Deng Jia Xi dan Angel, merupakan salah satu pengunjuk rasa yang bergabung bersama ratusan orang dalam unjuk rasa hari Rabu (3/3/2021).

Setelah berjuang dalam unjuk rasa di jalan Mandalay, Kyal Sin tewas setelah sebuah peluru menyasar ke kepalanya. Penari dan juara taekwondo tersebut meninggal bersama sekitar 18 pengunjuk rasa lainnya.


Namun, sebelum tewas, Kyal Sin rupanya sudah mempersiapkan segalanya. Dengan turun ke jalan untuk merebut kembali demokrasi Myanmar, artinya ia tahu ini akan mempertaruhkan nyawanya.

Baca Juga:

Di Facebook, Kyal Sin rupanya telah memposting rincian medisnya dan permintaan untuk menyumbangkan organ tubuhnya jika dia terbunuh. Pesan duka dan pujian membanjiri halaman Facebooknya.

Myat Thu (23), yang bersama Kyal Sin saat protes, mengenangnya sebagai perempuan muda pemberani. Dikatakan ia menendang pipa air hingga terbuka sehingga pengunjuk rasa lain dapat mencuci gas air mata dari wajah mereka, dan yang melemparkan tabung gas air mata kembali ke arah polisi.

Ket foto: Kyal Sin, 19, demonstran antikudeta militer Myanmar saat berdemo. Dia ditembak mati polisi junta Myanmar Rabu lalu. Foto/Instagram @aunglansang

“Ketika polisi melepaskan tembakan, dia mengatakan kepada saya ‘Duduk! Duduk! Peluru akan menghantammu. Anda terlihat seperti berada di atas panggung’,” kenang Myat Thu. “Dia merawat dan melindungi orang lain sebagai seorang kawan.”

Myat Thu mengatakan dia dan Kyal Sin termasuk di antara ratusan orang yang berkumpul dengan damai di kota kedua Myanmar untuk mengecam kudeta dan menyerukan pembebasan pemimpin Aung San Suu Kyi.

Sebelum serangan polisi, Kyal Sin berkata dalam sebuah video: “Kami tidak akan lari” dan “darah tidak boleh ditumpahkan”.

Polisi pertama menyemprotkan gas air mata, kata Myat Thu. Kemudian peluru datang. Gambar yang diambil sebelum dia dibunuh menunjukkan Kyal Sin berbaring untuk berlindung di samping spanduk protes, dengan kepala sedikit terangkat.

Semua orang berpencar, kata Myat Thu. Baru kemudian dia mendapat pesan: Seorang gadis telah meninggal. “Saya tidak tahu bahwa itu dia,” kata Myat Thu, yang melihat foto di Facebook yang menunjukkan Kyal Sin berbaring di samping korban lain.

Seorang teman Kyal Sin lainnya, Kyaw Zin Hein, membagikan salinan pesan terakhir pertemuan tersebut kepadanya di media sosial. Bunyinya: “Ini mungkin terakhir kali saya mengatakan ini. Sangat mencintaimu. Jangan lupa.”

“Dia adalah gadis yang riang, dia mencintai keluarganya dan ayahnya juga sangat mencintainya,” kata Myat Thu, yang sekarang masih bersembunyi. “Kami tidak sedang berperang. Tidak ada alasan untuk menggunakan peluru tajam pada orang. Jika mereka manusia, mereka tidak akan melakukannya,” ujarnya.

Myat Thu juga mengenal Kyal Sin di kelas taekwondo. Dia adalah seorang ahli seni bela diri serta penari di DA-Star Dance Club Mandalay yang sering memposting video gerakan terbarunya di Facebook.

Kyal Sin sebelumnya sempat berbagi kebanggaan dalam memberikan suara untuk pertama kalinya pada pemilu 8 November 2020, memposting foto dirinya sedang mencium jarinya, diwarnai ungu untuk menunjukkan bahwa dia telah memilih.

“Suara pertama saya, dari lubuk hati saya. Saya melakukan tugas saya untuk negara saya,” tulis Kyal Sin dalam postingannya, dengan enam emoji hati merah.(*ade)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker