PENDIDIKAN

Nasib Guru Honorer Ditengah Wabah Covid-19


Kendari, OborSultra.com – Wabah Covid-19 sungguh membuat sulit. Tidak hanya yang terpapar jadi sakit hingga meninggal dunia, namun menyebabkan perkonomian macet dan rakyat kecil makin tercekik.

Tak terkecuali kalangan pegawai honorer. Padahal, pegawai honorer terutama guru honorer sekolah dan madrasah merasakan betul dampak Covid 19 dan kebijakan “peliburan” ini. Apalagi bagi guru honorer harian. Langsung atau tidak langsung guru honorer meraakan betul belajar dari rumah. Anak-anak diinstrusikan belajar dalam jaringan (daring/online) namun guru tidak dibekali paket data atau kuota internet.

Baca juga: Menteri Perindustrian Beri Kelonggaran Pelaksanaan Kegiatan Industri

Baca Juga:

Hal ini tentu menyebabkan kaum guru mesti mengetatkan ikat pinggang lebih kencang. Pertanyaannya, untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari saja sangat minim, bagaimana bisa mengembangkan diri dan menunjang kegiatan sekolah yang perlu membutuhkan biaya tambahan dari kantong sendiri?

Dari segi sumber pendapatan, guru honorer itu ada yang mendapat gaji (honor) dari pemerintah daerah dan ada yang dapat honor dari manajemen sekolah. Hitungan pembayarannya, ada yang dibayar perbulan, ada juga yang dibayar harian.





Pembayaran harian itu hitungannya per-jam kedatangan ke sekolah. Jika guru tersebut tidak ke sekolah, misal sakit atau ada halangan lainnya, berarti honor dalam sebulan bisa berkurang atau malah tidak dapat sama sekali.

Baca juga: 2.273 Orang Di Indonesia Positif Corona, Banyak Tertular Tanpa Gejala

Beberapa sekolah memberi bayaran kepada guru honor sekolah dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) atau dana sumbangan dari orang tua siswa. Secara umum guru honorer mendapat bayaran di kisaran Rp. 500.000 dalam setiap bulannya, itupun terkadang dibayar tidak tepat tiap bulan. Ada kalanya dibayarkan per triwulan atau empat bulan sekali.

Di beberapa daerah besaran bayaran guru honorer Rp 300.000 dalam setiap bulannya. Sedangkan tugas dan kewajiban mereka dalam memajukan pendidikan sama saja dengan guru-guru non-PNS lainnya. Ada juga beberapa sekolah yang menerapkan semacam tunjangan namun tidak semua guru honorer mendapatkannya karena hanya yang memenuhi administrai tertentu yang berhak mendapatkan.

Lama pengabdian di sekolah tidak dihitung karena semisal guru tersebut tidak punya Nomor Unik Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK). Bahkan guru dalam golongan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K) pun hingga saat ini belum mendapatkan haknya. Terutama dalam penggajian, karena belum mendapat Keputuan Presiden (Kepres). Sudah lebih dari setahun ini mereka terkatung-katung menunggu kejelasan P3K.

Para guru honorer bisa mencari tambahan dengan menjadi ojeg daring, berjualan gorengan, atau les privat. Namun, itu belum menjadi jawaban tepat atas permasalahan hidup mereka. Bukan melulu ihwal profesionalisme, namun keadilan dan kepatutan perlakuan. Terlebih dalam kondisi wabah Covid-19 yang membuat gerak langkah kaum guru honorer pun kian terbatas sedangkan kebutuhan sehari-hari tidak bisa dihindari, baik terkait dapur maupun kebutuhan anak-anaknya.

Membaca fenomena itu, pemerintah diharapkan peduli kepada nasib guru honorer. Bukan saja pemerintah, tetapi juga bagi saudara-saudara semua yang memiliki rezeki agak berlebih, untuk saling bahu-membahu membantu ekonomi para guru honorer, bukan untuk Alat Pelindung Diri (APD) dan penyemprotan disinfektan saja.

Baca juga: Dua Pasutri Di Kendari Positif COVID-19

Penggalangan dana atau sembako untuk membantu ekonomi para guru honorer bisa dilakukan di setiap daerah. Diwujudkan langsung kepada kebutuhan pokok keluarga berupa paket sembako yang memang sangat dibutuhkan dan tidak bisa ditangguhkan. Dengan bantuan paket sembako untuk guru honorer bukan saja membuktikan rasa empati kita pada kondisi yang memprihatinkan ini, namun diharapkan daya tahan keluarga besar guru honorer menjadi lebih kuat serta menunjang kinerja mereka dalam membina anak-anak dalam bidang pendidikan.
Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi..?(*ema)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait


Back to top button
Close