INTERNASIONAL

Indonesia Minta Beijing Selidiki Kapal Cina Dimana Tiga ABK Indonesia Tewas


Jakarta, OborSultra.com – Menteri Luar Negeri Retno Masudi meminta pemerintah China menyelidiki perusahaan China yang diduga mempekerjakan puluhan Anak Buah Kapal, ABK Indonesia secara tak layak dan meminta mereka memenuhi kewajiban pada para ABK itu.

Sebanyak 14 ABK Indonesia, yang rencananya akan diterbangkan kembali ke Indonesia (08/05/2020), mengaku mendapat perlakuan buruk dan penyiksaan di kapal ikan China, Long Xing 629.

Retno mengatakan dalam konferensi pers secara daring (07/05/2020) bahwa pihaknya telah mengadakan komunikasi dengan Dubes Tiongkok terkait kasus itu. Salah satu yang dituntutnya adalah tanggung jawab dari perusahaan China yang mempekerjakan para ABK.

“Meminta dukungan pemerintah Tiongkok untuk membantu pemenuhan tanggung jawab perusahaan atas hak para awak kapal Indonesia, termasuk pembayaran gaji yang belum dibayarkan dan kondisi kerja yang aman,” ujarnya.

Ia juga meminta pemerintah China menyelidiki kondisi di kapal dan memberi hukuman berat, jika terbukti perusahaan itu melakukan pelanggaran.





Retno mengatakan, pemerintah China mengklaim mereka akan memastikan agar perusahaan kapal China itu bertanggung jawab untuk mematuhi hukum yang berlaku dan kontrak yang sudah disepakati. Kasus ini kini tengah diselidiki oleh pemerintah Indonesia dan aparat keamanan Korea Selatan.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Korea Selatan, Umar Hadi mengatakan proses hukum akan tetap berlanjut, meski para ABK itu kembali ke Indonesia.

Sebelumnya, pemerintah sudah memulangkan 8 WNI yang bekerja di kapal Long Xing 605, 3 WNI yang bekerja di kapal Tian Yu 8, dan 18 WNI yang bekerja di Long Xing 606.

“Kapal-kapal China itu dikelola perusahaan China yang sama,” ujar Umar Hadi.

Menteri Luar Negeri Retno Marsudi mengatakan, empat ABK Indonesia yang meninggal bekerja pada kapal Long Xing 629. Yang tiga kemudian dilarung, sementara satu orang lainnya meninggal di fasilitas kesehatan di Busan.

WNI berinisial AR, sakit dan dipindahkan ke kapal lain, Tian Yu 8, untuk dibawa berobat ke pelabuhan tanggal 26 Maret 2020. Ia meninggal empat hari kemudian dan jenazahnya dikubur di laut lepas (dilarung) tanggal 31 Maret pagi.

“Dari info yang diperoleh KBRI, pihak kapal telah memberitahu keluarga dan mendapat surat persetujuan pelarungan di laut tertanggal 30 maret 2020. Pihak keluarga sepakat untuk menerima kompensasi dari kapal Tian Yu 8,” ujar Retno.

Dua WNI lainnya meninggal saat berlayar di Samudera Pasifik dan dilarung pada Desember 2019.

Menurut Menlu Retno, berdasarkan informasi yang diterima pihaknya, keputusan pelarungan jenazah ini diambil kapten kapal karena kematian disebabkan penyakit menular berdasarkan persetujuan awak kapal lainnya.

Sementara, satu WNI berinisial EP, meninggal di fasilitas kesehatan di Busan, karena menderita pneumonia. Retno mengatakan pihaknya tengah mengusahakan pengembalian jenazah EP ke Indonesia.

Meski telah menerima informasi kematian itu, Retno mengatakan pemerintah Indonesia masih pemerintah China untuk memberi klarifikasi dan informasi yang valid apakah penguburan itu sudah sesuai standar ILO.(ard)


Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Back to top button
Close