EKONOMI

PLN: Penyebab Tagihan Listrik Melonjak Murni Akibat Pemakaian


Jakarta, OborSultra.com – Terkait dengan banyaknya keluhan masyarakat mengenai tagihan listrik yang naik secara tidak wajar selama pandemi Covid-19 ini. Agus Subekti selaku Executive Vice President Commercial, Unit Bisnis Service bright PLN Batam, menegaskan bahwa sesungguhnya kenaikan tarif listrik ini memang murni akibat pemakaian masyarakat selama WFH (Work From House).

“Banyak sekali saya menerima keluhan dari banyak masyarakat, dan terkait keluhan lonjakkan kenaikan listrik ini bukan kenaikan tarif, tetapi ini murni pola pemakaian masyarakat dimana ada kegiatan WFH di bulan Maret hingga Mei ini,” jelas Agus dilansir dari RRI, Senin (8/6/2020).

Baca juga: Ini Cara Mengecek Apakah Listrik Anda Di Gratiskan Pemerintah Atau Tidak

Disisi lain Agus juga menjelaskan bahwa selain para pekerja, anak-anak yang bersekolah maupun yang beribadah juga melakukan beberapa melakukan kegiatan dirumah. Apalagi pada saat bulan Ramadan ia menganggap pemakaian juga cukup tinggi.

“Ditambah adanya kegiatan Ramadan mulai dari tanggal 24 April sampai 23 Mei 2020 kemarin, ini mengakibatkan pola tren pemakaian pelanggan itu cukup tinggi,” jelas Agus.





Selain itu, di bulan Maret dan April, PLN juga tidak bisa menerbitkan petugas pencacatan meter karena mereka juga patuh pada protokol kesehatan Covid-19 dari pemerintah. Sehingga di bulan Maret dan April, PLN memberikan kesempatan kepada pelanggan dengan mengirimkan meteran berdasarkan foto kepada nomer WhatssApp yang telah disediakan PLN.

“Mengingat Anime masyarakat rendah dari yang ngirim, dari pelanggan kita yang jumlahnya 330 ribuan dan itu yang mengirim di bulan Maret hanya 29 ribu pelanggan, tetapi di bulan April anime masyarakat meningkat sedikit diangka 39 ribuan,” jelasnya kembali.

Baca juga : Ada Faktor Lain Penyebab Lonjakan Tarif Listrik, PLN Diminta Tak Berpatokan Argumen Standar

Sehingga menurutnya, pelanggan yang mengirimkan itu tidak ada masalah tetapi bagi yang tidak mengirim maka PLN Batam memprediksi hanya melalui data history pemakaian rata-rata pelanggan sebelumnya.

“Dan akhirnya pada tanggal 27 Mei sampai 31 Mei kemarin kita catat angka yang sebenarnya dan itulah yang menyebabkan tagihan itu melonjak, karena ketika kita rata-rata itu tidak presisi yakni ada yang naik ada yang turun,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan bahwa sebenarnya yang lebih berasa pada pelanggan pascabayar dan manual karena harus dilakukan pencatatan meter. Sementara untuk pelanggan prabayar itu sama sekali tidak ada masalah.

“Kami memberikan kemudahan berupa cicilan dan kami membuka posko-posko pelayanan baik berbentuk fisik layanan datang ke kantor maupun berdasarkan nomer WhatssApp yang bisa dihubungi oleh para pelanggan,” pungkasnya.


Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Back to top button
Close