PENDIDIKAN

Pertama Di Kendari, Ujian PSB SMA Negeri I Terapkan Protokol Covid-19


Kendari, OborSultra.com – Pendaftaran SMA pada tahun ajaran kali ini mengharuskan siswa langsung memilih peminatan yang diinginkan. Tersedia kompetensi MIPA, IPS, dan Bahasa untuk SMA, serta beragam pilihan kompetensi untuk SMK.

Seperti halnya SMA Negeri 1 Kendari, hari ini melaksanakan tes peminatan untuk peserta didik baru sebagai salah satu dasar penilaian untuk pemilihan jurusan MIPA, IPS dan Bahasa.

Ditemui OborSultra.com, di ruangannya, Jumat (10/7/2020), kepala sekolah SMA negeri 1 Kendari, Drs. H. Agusman Hanisi, M. Si, mengatakan tes uji kompetensi ini ditujukan untuk memadukan kemauan orang tua siswa dengan kemampuan anak dalam rangka penentuan jurusan bagi siswa baru.

“Tes peminatan ini dilaksanakan untuk memadukan kemauan orang tua siswa dengan kemampuan anak, karena pada umumnya, orang tua siswa menginginkan anaknya masuk di kelas MIPA, padahal kemampuan dan minat anaknya belum tentu mendukung keinginan orang tua,” kata Agusman.

“Hasil ujian peminatan siswa baru ini akan menentukan kelas bagi masing-masing siswa, kemudian tugas wali kelas dan guru-guru untuk mendiskusikan bersama siswa tentang pelaksanaan program dan jadwal belajar dirumah melalui daring. Namun sebelumnya, kami juga telah melatih para guru tentang metode dan proses pelaksanaan program belajar online” lanjutnya.

Protokol kesehatan juga diterapkan dalam pelaksanaan ujian ini. Didepan pintu masuk sekolah terlihat pengurus OSIS memeriksa setiap orang yang masuk dengan alat pemeriksaan suhu tubuh/cek suhu tubuh.

“Kegiatan ujian dilaksanakan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Sehari sebelum pelaksanaan, kami telah menyemprotkan disinfektan diseluruh ruangan. Hari ini, semua orang yang masuk pintu sekolah harus melalui pemeriksaan atau cek suhu tubuh, memakai masker serta menjaga jarak,” ujarnya

“Siswa yang mengikuti ujian juga diharuskan membawa hansanitizer meskipun didepan kelas telah tersedia tempat cuci tangan,” terangnya.

Ditanya soal kemungkinan ada siswa yang tidak memiliki fasilitas dalam proses pembelajaran melalui daring, Agusman menjelaskan bahwa baik wali kelas maupun guru-guru mempunyai teknik masing-masing dalam mengantisipasi kekurangan tersebut.

“Wali kelas maupun guru-guru mempunyai teknik dan strategi dalam penerapan siswa belajar dirumah melalui daring. Setelah kita melakukan penelusuran, hanya sekitar lebih kurang 2% siswa yang belum memiliki handphone android, sehingga mereka nantinya akan diminta untuk belajar bersama dirumah temannya yang terdekat untuk belajar bersama,” jelas Agusman.(ema)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait


Back to top button
error: Content is protected !!
Close