NASIONAL

TNI AD Hapus Tes Keperawanan Bagi Calon Prajurit KOWAD

"Pemeriksaan kesehatan terhadap calon prajurit untuk KOWAD akan sama dengan tes kesehatan untuk prajurit TNI AD"


Jakarta, OborSultra | Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) TNI Jenderal Andika Perkasa mengatakan institusinya menghapus aturan tes keperawanan dalam proses rekrutmen.

“Pemeriksaan kesehatan terhadap calon prajurit untuk KOWAD akan sama dengan tes kesehatan untuk prajurit TNI AD,” kata Jenderal Andika dalam kanal YouTube milik TNI.


“Sekarang tidak ada lagi pemeriksaan vagina dan serviks. Tapi pemeriksaan genitalia luar tetap ada, tapi tadi tanpa melibatkan inspeksi secara khusus ke servik dan vagina,” kata Andika Rabu, (11/8/2021). Selain itu, pemeriksaan lain yang ikut dihilangkan adalah pemeriksaan selaput dara.

Baca Juga:

Selain itu, aturan yang diubah adalah soal buta warna. TNI kini menggunakan dua alat ukur. Yang semula hanya menggunakan tes ishihara saja, kini turut melibatkan tes hardy-rand-rittler atau HRR. “Jadi menggunakan dua tes agar lebih teliti. Sehingga yang benar enggak bisa, sudah tidak bisa,” kata Andika.

Kemudian yang diperbaiki juga adalah aturan tentang tulang belakang dan jantung calon personel. Untuk aturan tulang belakang, yang semula kemiringan hanya boleh sampai lima derajat kini, kata Andika, diberikan toleransi hingga 20 derajat. sedangkan jantung, proses pemeriksaan akan dilakukan lebih dari satu kali.

Sebelumnya, Lembaga Hak Asasi Manusia, Human Rights Watch mengatakan tampaknya Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat tidak akan lagi melakukan tes keperawanan bagi perempuan yang mendaftar untuk menjadi tentara.

Andy Yentriyani Kepala Komnas Perempuan mengatakan kepada ABC bahwa mereka menghargai perubahan yang diusulkan, hal yang sudah diberitakan luas di media lokal.

“Kebijakan ini akan memberi sumbangan besar berakhirnya sikap diskriminatif terhadap perempuan,,” kata Andy Yentriyani.

“Namun, pandangan itu harus diresmikan dalam dokumen tertulis dan diharapkan akan juga diikuti oleh angkatan lain dalam TNI.

Praktik tes keperawanan sudah dilakukan lebih dari 50 tahun

Menurut laporan Human Rights Watch (HRW) yang dikeluarkan minggu ini, TNI sudah melakukan tes keperawanan terhadap calon prajurit perempuan selama berpuluh-puluh tahun.

Staf HRW untuk Indonesia Andreas Harsono mengatakan bahwa dalam tes kesehatan bagi mereka yang ingin menjadi prajurit, pemeriksa akan memasukkan dua jari ke vagina untuk mengetahui apakah mereka masih perawan atau tidak.

Dia mengatakan HRW memiliki hasil pemeriksaan dari dokter militer di mana ada bagian ‘ginekologi dan kandungan’ untuk menentukan hasil pemeriksaan selaput dara masih perawan atau tidak

Andreas Harsono mengatakan, berdasarkan pengumuman KSAD Jendral Andka, berarti tes keperawanan tersebut akan dihentikan paling tidak di TNI AD.

Namun, meskipun menurutnya aturan ini sudah berlaku resmi di TNI AD, belum jelas apakah hal tersebut akan dijalankan di seluruh Indonesia.

Bulan April lalu, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Muda Anwar Saadi mengatakan kepada Komnas Perempuan bahwa TNI tidak pernah melakukan praktik tes keperawanan sebagai bagian dari tes kesehatan.

Yang dilakukan adalah tes keperawanan sebagai catatan dan bukan karena alasan ‘moral’.

“Tes keperawanan adalah bagian dari tes kesehatan dan tidak menentukan status seorang perempuan untuk menjadi tentara,” katanya.

Melansir ABC, HRW pertama kali melaporkan bahwa TNI melakukan tes keperawanan di tahun 2014.

“Jajaran Polda Metro Jaya yang pertama kali menghentikan hal tersebut setelah adanya perintah Kapolda di tahun 2014,” kata Andreas.

“Saya masih mendengar tes ini masih dilakukan di provinsi lain, seperti di Kalimantan Barat, namun protes perlahan hilang dari kalangan polisi.”

Andreas Harsono mengatakan TNI harus mengakui bahwa ‘kekerasan berdasarkan gender’ telah terjadi lewat tes keperawanan yang dilakukan terhadap calon prajurit perempuan.

Dia mengatakan ini bisa menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.

“TNI akan berjasa bagi bangsa ini bila memasukkan hak perempuan dalam petunjuk pelatihan militer termasuk praktik yang tidak berdasarkan keilmuan yang pernah dilakukan.” ujarnya. (*ade)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker