TEKNO

‘Kiamat Internet’: Badai Matahari Yang Bisa Membuat Dunia Offline Selama Berminggu-minggu, Bahkan Berbulan-bulan

"Badai matahari yang parah terakhir tercatat dan terjadi kembali pada tahun 1859, 1921, dan yang terbaru pada tahun 1989."


Jakarta, OborSultra | Badai matahari mungkin adalah salah satu fenomena paling menakjubkan yang bisa disaksikan. Namun, sekarang penelitian baru mengatakan bahwa badai matahari yang menghantam Bumi selanjutnya berpotensi menghancurkan infrastruktur dan menyebabkan ‘kiamat internet’. Pemadaman internet akan berlangsung selama berbulan-bulan.

Sebuah studi baru telah memperingatkan bahwa badai matahari super, yang terjadi sekali dalam sekitar satu abad, dapat menjerumuskan dunia ke dalam “kiamat Internet”, membuat sebagian besar masyarakat offline selama berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan.


Matahari terus-menerus membombardir Bumi dengan partikel elektromagnetik. Partikel-partikel ini — yang membuat angin matahari — biasanya dikirim ke kutub oleh perisai magnet Bumi yang melindungi planet ini dari kerusakan nyata. Sekitar setiap 100 tahun, angin matahari ini berubah menjadi badai matahari besar, menurut para peneliti, yang dapat memiliki konsekuensi serius bagi kehidupan modern.

Baca Juga:

Studi berjudul ‘Solar Superstorms: Planning for an Internet Apocalypse’ dipresentasikan pada konferensi komunikasi data SIGCOMM 2021. Penulisnya Sangeetha Abdu Jyothi dari University of California, Irvine, menulis bahwa kemajuan teknologi modern bertepatan dengan periode aktivitas matahari yang lemah dan Matahari diperkirakan akan menjadi lebih aktif dalam waktu dekat.

Para ilmuwan memperkirakan kemungkinan cuaca luar angkasa yang ekstrem berdampak langsung ke Bumi antara 1,6 dan 12 persen dalam dekade berikutnya. Menurut penelitian, infrastruktur internet regional akan menghadapi risiko kerusakan yang rendah bahkan dalam badai matahari besar-besaran karena serat optik itu sendiri tidak terpengaruh oleh arus yang diinduksi secara geomagnetik.

Kiamat Internet Badai Matahari Yang Bisa Membuat Dunia Offline
infrastruktur internet regional akan menghadapi risiko kerusakan yang rendah bahkan dalam badai matahari besar-besaran karena serat optik itu sendiri tidak terpengaruh oleh arus yang diinduksi secara geomagnetik. (Foto: NASA)

Tetapi risikonya lebih tinggi untuk kabel bawah laut yang panjang. Jika badai matahari mengganggu sejumlah kabel ini, hal itu dapat menyebabkan terputusnya konektivitas antar negara meskipun infrastruktur lokal tetap utuh.

“Infrastruktur kami tidak siap untuk peristiwa matahari skala besar. Kami memiliki pemahaman yang sangat terbatas tentang tingkat kerusakan yang akan terjadi,” kata Abdu Jyothi seperti dikutip Wired. Pandemi dan ketidaksiapan dunia menghadapi keadaan darurat di tingkat global membuat peneliti berpikir tentang ketahanan internet.

Untuk badai matahari yang parah, Bumi akan memiliki waktu sekitar 13 jam untuk bersiap, tambah Abdu Jyothi. Hanya dua badai seperti itu yang tercatat dalam sejarah baru-baru ini — pada tahun 1859 dan pada tahun 1921.

Kapan badai matahari terjadi?

Dalam seabad terakhir, hanya ada dua badai matahari ekstrem yang pernah tercatat yaitu pada tahun 1859 dan 1921.

Badai matahari yang terjadi tahun 1859 juga disebut sebagai ‘Carrington Event’ yang menyebabkan kabel telegram terbakar, hingga aurora yang biasanya hanya ada di kutub terlihat di Kolombia.

Bahkan badai matahari yang terbilang kecil juga memiliki dampak yang cukup signifikan. Seperti badai matahari pada Maret 1989 yang membuat Provinsi Quebec di Kanada kehilangan tenaga listrik selama sembilan jam.

Dampak badai matahari

Karena saat ini populasi dunia sangat bergantung pada internet, Abdu Jyothi juga menjelaskan dampak dari badai geomagnetik raksasa terhadap infrastruktur internet di Bumi.

“Koneksi internet lokal dan regional kemungkinan tidak akan terdampak karena kabel fiber optik tidak akan terpengaruh oleh gelombang geomagnetik,” terangnya.

Lain halnya dengan kabel internet bawah laut yang menghubungkan negara bahkan benua. Kabel-kabel ini dilengkapi dengan repeater untuk mendorong sinyal optik yang ditempatkan tiap 50-150 km.

Kawasan yang paling terdampak adalah Bumi belahan utara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris. Wilayah ini paling rentang terhadap badai matahari ekstrem dan jika terjadi maka negara-negara itu yang akan kehilangan koneksi internet terlebih dulu.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker