FIGUR TOKOH

Prof Eka Suaib: Peluang Dan Tantangan Abu Hasan dalam Pilkada Buton Utara


Buranga, OborSultra.com – Kabupaten Buton Utara adalah salah satu dari tujuh kabupaten di provinsi Sulawesi Tenggara yang akan melakukan pilkada serentak dalam bulan September 2020 mendatang. Sejak dini para kandidat calon bupati maupun wakil bupati sudah mulai menyusun strategi bagaimana memenangkan kontestasi pilkada di Butur tahun 2020 ini.

Guru besar Univeraitas Haluoleo Kendari, Prof. Dr. H. Eka Suaib, M.Si., mengatakan bahwa Abu Hasan sebagai Petahana memiliki beberapa peluang dan tantangan dalam pertarungan politik tahun ini.

“Dalam kontestasi politik Kabupaten Buton Utara peluang Abu Hasan untuk maju sebagai salah satu kandidat dalam pilkada tahun ini sangat besar karena petahana adalah ketua partai politik besar pada level provinsi, dan pada tingkat daerah yang didukung adalah orang yang sepaham dan seidiologi dengannya sehingga ada jalan bagi pengusungan partai politik,” ujarnya saat ditemui OborSultra.com diruang kerjanya WD II FISIP UHO, Kamis (13/2/2020).

Baca juga: Poling Pilkada Buton Utara Tahun 2020

Lebih lanjut Prof Eka Suaib, menjelaskan dalam kontestasi politik kedepan, Abu Hasan akan berhadapan dengan pemain lama yaitu, bisa saja mantan bupati atau pemain lama yang sekarang menduduki jabatan politik di Butur sehingga Abu Hasan dalam konfigurasi dan formasi harus bekerja keras karena orang yang akan dihadapi adalah orang-orang yang punya pengalamam, latar belakang pribadi, track record yg cukup baik di politik.

“Bagaimana agar petahana dapat memenangkan kontestasi politik adalah kemampuan untuk membentuk networking atau jaringan politik se masif mungkin sampai ke level bawah, kemampuan untuk memobilisasi sumberdaya yang ada yaitu bagaimana menggerakkan mesin porpol, mobilisasi dan merekrut relawan yang ada dan memfungsikan semua mesin polotik, serta kemampuan mencari pasangan calon wakil yang bisa saling melengkapi dalam hal basis-basis elektoral, kemampuan utk chemestry menutup kekurangan dan mengeksplor kelebihan Yang ada dan mencari peluang strategi politik yang bisa di eksplor di lapangan,” jelasnya.

 

“Konteks politik Butur yang sangat dinamis karena hampir sebagian besar elit-elit Butur yang menempati posisi eksekutif dan legislatif adalah mantan-mantan aktivis di era tahun 1980, 1990, dan 2000an yang sekarang menempati level menengah. Artinya dinamika yang ada agak tinggi. Permainan issue akan banyak dilakukan karena Butur adalah gudang aktivis. Posisi Butur yang berada pada persimpangan budaya yang bersilangan yaitu Kabupaten Buton dan Kabupaten Muna dapat membuat eskalasi dan dinamika politik, maka pilkada Butur akan mengalami dinamika yang cukup tinggi sehingga masih sulit memprediksi secara pasti siapa yang akan menjadi pemenang nantinya,” tambahnya.

Baca juga: Andy Ray Rahmat Abdi : Perlu Keteladanan Untuk Memotivasi Masyarakat

Menurutnya juga, Koalisi partai adalah hal yang agak rumit di tingkat lokal karena bangunan kepartaian tidak berbasiskan nilai dan ideologi tapi kepentingan apa yang didapatkan partai dalam momen politik tersebut. Koalisi dibuat sedemikian rumit agar ada ruang yang dibuat para aktivis untuk melakukan negosiasi dengan calon bupati yang ada baik untuk kepentingan jangka pendek maupun jangka panjang. Parpol juga akan melihat apakah calon yang didukung sanggup memenangkan pertarungan serta kalkulasi keuntungan yang bisa didapat dalam koalisi tersebut.

“Dilihat dari konfigurasi politik Butur tidak ada yang menghegomoni dan mendominasi. Sumber kekuatan politik lebih tersebar sehingga agak sedikit peluang ada kotak kosong. Kecuali ada kejadian luar biasa sehingga konfigurasi atau warna ini bisa berubah,” sambungnya.

 

Dia pun tak segan menyoroti bahwa parpol adalah pintu, setelah itu karena pilkada berbasis figur sehingga terkoneksi dengan kekuatan atau basis politik lain misal relawan dan simpatisan adalah jaringan-jaringan dengan bermacam keragaman karena kesamaan basis keluarga, basis alumni, basis pertemanan, hobby dan lainnya. Harus mampu memobilisasi semua tokoh yang berpengaruh untuk menjadi satu simpul basis kekuatan untuk menang.

Baca juga: Sultra Sah Tuan Rumah Hari Pers Nasional Tahun 2021

“Branding bahwa Butur punya kelebihan sebagai kabupaten Organik perlu dilanjutkan karena telah membawa Butur dikenal oleh publik. Organik adalah upaya atau langkah suplemen utk mensejahterakan masyarakat Butur. Issu yang lebih strategies harus lebih dirumuskan berdasarkan kekuatan dan keunggulan yg dimiliki Butur, misalnya dibidang pertanian, perikanan dan pariwisata sehingga branding untuk periode berikutnya harus mencari issu yang melengkapi organik dengan orientasi program yang lebih membumi dan dirasakan oleh masyarakat,” paparnya.

Menurutnya pula, Butur adalah daerah yang sangat kuat memainkan issu sehingga kemampuan untuk mengemas issu juga merupakan salah satu upaya menciptakan branding bagi petahana untuk memenangkan pertarungan pilkada.

“Harus ada upaya yang bisa merumuskan program yang terkoneksi dengan semua elemen penting dalam masyarakat yaitu pemuda, petani, nelayan, perempuan dan lain-lain,” pungkasnya.(ema)

Tinggalkan Balasan


Back to top button
Close