FIGUR TOKOH

Kisah Lamangga, Polisi Hutan Yang Tak Mau Disuap


Kendari, OborSultra.com – Namanya Lamangga. Seorang polisi kehutanan (polhut) senior yang dimiliki Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra. Pada 5 Agustus mendatang, lelaki kelahiran Konda, Kabupaten Konawe Selatan ini, akan memasuki purna bakti. Tinggal menghitung hari.

Perawakannya kurus meski tidak ringkih. Uban sudah menyelimuti sebagian besar kepalanya pertanda usia yang sudah tidak lagi muda. Pakaiannya rapi dengan seragam dinas polisi kehutanan. Memang selalu rapi tiap hari ketika berkantor.

Selama 36 tahun dia mengabdikan dirinya sebagai polhut tanpa pernah sekalipun berpindah profesi sebagaimana umumnya para pegawai negeri. Lamangga tetap polhut hingga pensiun sejak resmi diangkat pada Maret 1984.

Tugas pertamanya di Kabupaten Muna. Enam tahun di sana. Dari tahun 1984-1990. Lalu bermohon untuk pindah ke Kendari. Permohonannya dikabulkan dan ditarik ke dinas kehutanan provinsi. Namun, hanya dua bulan dia di sana, pria kelahiran 1962 ini kemudian ditugaskan ke Kabupaten Konawe.

Sebenarnya, dia betah bertugas di Konawe. Lamangga bertugas selama setahun, hingga kemudian dirinya mendengar kabar kalau para polhut akan dilebur menjadi pegawai negeri biasa. Salah satunya menjadi Satpol PP.

Lamangga enggan berpindah. Dia mencintai dunianya saat ini. Sebagai polhut. Denyut nadinya sudah disana. Kembali dia mengajukan diri untuk pindah ke provinsi. Permintaannya dikabulkan. Sejak saat itu, pria yang menetap di Ranomeeto, kawasan perbatasan Kendari-Konawe Selatan ini, tidak pernah lagi pindah tugas.

“Sangat sedikit pegawai negeri yang benar-benar menghayati profesinya. Tidak pernah pindah-pindah. Polhut terus,” jelas Yasir Syam Husain, Kepala Bidang Perlindungan, Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), atasan Lamangga, beberapa waktu lalu.

Di mata Yasir, Lamangga adalah petugas yang istimewa. Polhut adalah dunia yang keras. Petugas yang berhadapan dengan pelaku perusak hutan. Namun, dalam perjalanan panjangnya, tidak pernah ada laporan maupun cerita di sudut-sudut kantor, yang menyatakan Lamangga pernah menerima suap dari para pelanggar kehutanan.

Ketika menanyakan langsung mengenai sikapnya yang enggan menerima pemberian dari para pelaku pengrusakan hutan, Lamangga tidak lantas menjawab jumawa atau terkesan sok idealis. Dia menjawabnya dengan kalimat sederhana dan polos.

“Selama masih bisa kita hindari yang seperti itu (pemberian suap), sebaiknya tidak usah (diterima). Sebab, kita sudah ada gaji. Jangan sampai hanya dipancing,” tuturnya.

Lamangga tipe pegawai yang serius dengan tugas yang diberikan. Ketika mendapat penugasan, benar-benar dilaksanakan. Lamangga sendiri bercerita bahwa tak jarang dia bermalam di dalam hutan saat bertugas. Biasanya, ketika menemani petugas untuk melakukan pengukuran kawasan untuk perizinan.

“Tidak mungkin kita kembali ke perkampungan kalau sudah jauh masuk ke hutan melakukan pengukuran. Jadi mau tidak mau, kita bermalam di dalam hutan agar waktu tidak terbuang,” tutur lelaki yang telah dikaruniai tujuh orang cucu dari tiga orang anak ini.

Hal yang paling disyukuri Lamangga sebagai petugas pengamanan hutan adalah tidak pernah sekalipun ribut dengan masyarakat yang disebutnya “pengelola hutan”. Dia memandang mereka sebagai mitra kerja. Jangan dipandang sebagai musuh, kita harus rangkul. Begitu cara pandangnya.

Pada 5 Agustus mendatang, Lamangga akan segera mengakhiri pengabdiannya. Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Tenggara akan kehilangan seorang pegawai yang nyaris tidak pernah telat berkantor sepanjang kariernya.

Pada rutinitas kantor, ada dua hal yang menjadi ciri khas Lamangga. Pertama adalah pakaiannya yang selalu rapi. Kedua, kedisiplinannya dalam berkantor. Dia memastikan dirinya sudah berada di kantor sebelum jam kantor dimulai.

Padahal, sebagai petugas lapangan, kata atasannya, Lamangga bisa saja membuat surat tugas untuk melakukan pemantauan. Namun, itu tidak dilakukannya. Selama tidak ada penugasan untuknya, dia tetap berkantor seperti biasa dengan tepat waktu.

“Kecuali kalau sedang kurang sehat baru saya tidak masuk. Itupun menelepon ke pimpinan menyampaikan kalau tidak bisa masuk kantor. Nanti setelah Covid-19, saya dilarang oleh atasan. Untuk umur seperti saya katanya rawan. Jadi, saya tidak terlalu aktif ke kantor,” kata Lamangga.

Meskipun demikian, Lamangga bukan tipe pria tua yang sudah lemah dan sakit-sakitan. Menurut Yasir, menjadi polhut itu harus punya fisik yang prima. Ada standar fisik seseorang tetap menjadi polhut. Ada lembaga independen yang ditugasi khusus untuk memastikan kebugaran seorang polhut masih bisa diandalkan. Di usianya yang memasuki 58 tahun, Lamangga masih bisa memenuhi standar kebugaran itu.

Selepas pensiun nanti, Lamangga tidak punya harapan muluk-muluk. Ia akan fokus pada usaha ternak ayam yang dirintisnya, dan kini dikelola oleh anak pertamanya. Dia akan membangun satu kandang lagi untuk putra bungsunya.

“Kelak jika ada keluarga atau kerabat yang menjadi polhut, saya hanya berpesan pandai-pandailah membawa diri di masyarakat. Jangan bertindak seenaknya mentang-mentang kita petugas. Seragam ini hanya dipinjam sementara,” pungkasnya.

Lamangga. Satu dari sedikit pegawai negeri yang setia dengan profesinya. Menghayati sumpah jabatannya. Dia tidak pensiun di pangkat yang tinggi. Hanya menggunakan ijazah SMP ketika melamar, kendati pun dia lulusan SMA. Namun, dia paham benar tentang makna kesejatian, sebagai seorang polisi kehutanan.

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait


Back to top button
Close