EKONOMI

Pengelola Kopra Putih di Butur Meradang, 24 Ton Kualitas Ekspor Bulan Ini Terkendala Hujan


Buranga, OborSultra.com – Setelah sukses dengan ekspor perdana kopra putih ke negara China, kini Buton Utara (Butur) kembali menggenjot produksi kopra putihnya untuk memenuhi permintaan ekspor kedua.

Namun jadwal ekspor kali ini sepertinya akan tertunda. Tingginya intensitas curah hujan menyulitkan petani untuk mendapatkan bahan baku yang berakibat pada menurunnya produk kopra putih.

“Bahan baku dari kopra putih kan kelapa dalam, nah saat ini pohon kelapa sangat sulit untuk dipanjat oleh petani karena intensitas curah hujan yang cukup tinggi dan terus menerus sepanjang hari, sehingga petani agak sulit untuk memanjat ” kata ketua Koperasi Konami, St. Rabiah Abu Hasan, yang dihubungi melalui sambungan telepon seluler oleh OborSultra.com, Sabtu (18/7/2020).

Baca Juga:

“Tapi produksi tetap berjalan, masing-masing Badan Usaha Milik Desa (Bumdes) tetap ada produksinya meski secara kuantitas agak menurun dibanding periode yang lalu , dimana cuaca saat itu cerah sepanjang hari. Untuk harga saat ini kita beli dari Bumdes 7.200 rupiah/kg diluar biaya transportasinya,” lanjutnya.

“Untuk target ekspor kopra putih kita bulan ini sebanyak 24 ton. Tapi mungkin jadwalnya akan molor karena persediaan di gudang baru mencapai 14,372 ton, sehingga kita masih kekurangan kira-kira 10 ton lagi. Ini disebabkan karena disamping stok kelapa yang kurang, proses pengeringan dalam solar dryer dome juga bertambah lama akibat tidak adanya sinar matahari, ujarnya.





Sementara itu, Ketua Bumdes Desa Labulanda Kecamatan Kulisusu Barat, Azhar, mengatakan, saat ini bahan baku yang masuk ke Bumdes agak kurang. Produksi hasil pengeringan dalam solar dryer domepun menurun.

“Dihari-hari cerah, kita bisa menghasilkan produk kopra putih siap ekspor hasil pengeringan dalam solar dryer dome sebanyak 2.100 kg/bulan, dengan rincian produk sebesar 700 kg per sepuluh hari,” kata Azhar

“Namun kini produk dari solar dryer dome menurun, hanya mencapai 1.000 kg/ bulan, dengan rincian produksi sebanyak 500 kg per limabelas hari. Jadi ada penurunan dari segi kuantitas, juga lama pengeringan dalam solar dryer dome bertambah,” terangnya.

“Meski demikian, produksi tetap berjalan. Memang dari segi waktu agak lambat, namun target tetap kami pacu dalam rangka memenuhi permintaan ekspor,” jelasnya.(ema)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait


Back to top button
Close