DAERAH

Bantah Tudingan LPIP, Kepala Disperindag Butur: Itu Pengadaan Beberapa Alat Industri Perkebunan


Buranga, OborSultra.com – Pengadaan parang kacip yang dipersoalkan Ketua Lembaga Pemerhati Infrastruktur Pedesaan (LPIP) Kabupaten Buton Utara (Butur), Zardoni, yang menelan anggaran Rp.500 juta dibantah oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Butur.

Pasalnya, dana sebesar itu bukan hanya digunakan untuk pengadaan parang kacip saja tetapi juga untuk pengadaan beberapa alat pendukung industri pertanian/perkebunan lainnya seperti plastik ultra violet untuk pembangunan solar dryer dome serta belerang sebagai bahan baku pembuatan kopra putih yang saat ini sementara persiapan ekspor.

Baca juga: Buton Utara Siapkan Petani Untuk Ekspor 700 Ton Biji Mete Organik Ke Pasar Eropa

“Pengadaan parang kacip ini masih sangat kecil bila dibandingkan dengan proposal kelompok petani yang masuk di Disperindag Butur. Untuk pengadaan parang kacip, kami menyediakan sebanyak 700 unit dengan anggaran Rp140 juta, dimaksudkan untuk pemulihan ekonomi dalam rangka meningkatkan nilai tambah terhadap produksi jambu mete. Semuanya sudah tuntas tersdistribusi di 20 desa sentra mete di Kab. Buton Utara,” ujar Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Butur, As Sabran, disela-sela kegiatannya mengikuti lanjutan rapat pembahasan APBD perubahan di kantor DPRD Kab. Butur, Senin (19/10/2020).

Ket. foto: Penyerahan parang kacip di desa Morindini oleh camat Kambowa, Derwun.(foto: ist/net).

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang telah tergerus oleh pandemi Covid-19 berdampak pada menurunnya aktifitas ekonomi secara drastis, baik itu dari sisi permintaan maupun konsumsi masyarakat, sehingga pemerintah melakukan refocusing anggaran bagi dana kesehatan, bantuan sosial (bansos) dan mendukung dunia usaha khususnya UMKM.





“Sebentar lagi panen jambu mete, sementara harga pasaran mete turun sehingga perlu upaya peningkatan nilai tambah petani melalui pengolahan raw cashew menjadi kernel. Ditambah lagi dengan adanya kerjasama pemerintah daerah Buton Utara dengan Nirudaya melalui PT Astra International yang membutuhkan mete dalam bentuk kernel untuk memenuhi pasar nasional, maka pengadaan parang kacip dianggap perlu untuk diadakan dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat di desa,” lanjut As Sabran.

Dikatakan juga bahwa pengadaan plastik ultra violet untuk pembangunan rumah jemur kopra putih (solar dryer dome) serta belerang sebagai bahan baku produksi kopra putih, saat ini juga sangat dibutuhkan masyarakat untuk menggenjot permintaan ekspor kopra putih sebanyak 24 ton ke negara China.

Baca juga: Bupati Buton Utara Launching Perdana Ekspor Kopra Putih Ke China

Sementara itu, Camat Kambowa, Derwun, mengatakan bahwa 80% masyarakatnya bercocok tanam jambu mete dengan luas lahan lebih kurang 4.000 ha. Permintaan akan pengadaan parang kacip merupakan tindak lanjut dari pelatihan pengacipan jambu mete yang diselenggarakan beberapa waktu yang lalu untuk meningkatkan nilai jual jambu mete sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.

“Khusus di Kec. Kambowa, ada 10 desa potensi penghasil jambu mete. Alhamdulillah, masyarakat merespon baik serta sangat berterima kasih atas bantuan parang kacip yang diberikan oleh pemerintah, meskipun kecil tetapi mempunyai nilai manfaat yang sangat besar bagi peningkatan pendapatan masyarakat pada umumnya,” kata Derwun.(ema)


Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close