FIGUR

Satu Lagi, Putra Terbaik Butur Raih Gelar Doktor Dengan Predikat Sangat Memuaskan


Buranga, OborSultra.com – Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik serta Pelaksana Tugas Sekretaris Dinas Pengendalian Penduduk dan KB, Dewan pakar KAHMI Kab. Buton Utara, lahir dari keluarga serba kekurangan. Namun karena tekad yang kuat dibarengi dengan kerja keras dapat mengantarkan Dr. Muhammad Rajab Rusman, SKM.,M.Kes berhasil meraih cita-citanya menjadi seorang Doktor di Universitas Halu Oleo dengan predikat sangat memuaskan.

Anak ke 3 dari 6 bersaudara ini lahir dari pasangan Hadayasin dan Hazarman. Pekerjaan sang ayah adalah nelayan tradisional sedangkan ibunya adalah penjual ikan yang menjajakan hasil tangkapan suaminya.

“Cita-cita menjadi doktor ini lahir dari sejak sekolah di SMA untuk menjadi doktor bahkan profesor,” kata Rajab kepada OborSultra.com, Jumat (21/08/2020).

Rajab yang lahir di Desa Lipu Kecamatan Kulisusu, 15 Mei 1980, menyelesaikan pendidikan SD sampai ke jenjang SMA dengan penuh perjuangan. Namun itu tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar demi meraih cita-citanya. Dengan modal tekad yang kuat, Rajab berangkat ke kota Makassar, kota yang belum pernah di kunjunginya. Di kota inilah Rajab menyelesaikan pendidikan Strata 1 (S1) pada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIK) Tamalatea Makassar dan menyandang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM).

Di Makassar, Rajab tinggal berpindah-pindah mulai dari Musholah kampus,wisma Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Makassar atau numpang di kos-kosan kawan karena tidak ada biaya untuk kos. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari saja, Rajab bekerja sebagai tukang becak, sehingga setiap hari dia harus membagi waktu antara kuliah dan menarik becak.

“Selama kuliah di Makassar, saya menjadi penjaga musholah dan tukang adzan di musholah kampus. Pekerjaan saya juga disitu adalah menjemput penceramah dan membersihkan Musholah. Kalau sudah pulang kuliah, saya jadi tukang becak untuk kebutuhan makan sehari-hari. Jika sedang tidak tinggal di Musholah, maka saya harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer untuk sampai ke kampus. Modal utama saya dimasa kuliah adalah banyak berteman dan berorganisasi,” kisahnya.

Rajab yang gigih tidak berhenti disitu. Dia kembali melanjutkan pendidikannya ke jenjang Strata 2 (S2) pada Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Hasanuddin Makassar dan meraih tambahan gelar Magister Kesehatan (M.Kes). Kehidupan keras kembali dijalaninya sebagai penjaga Musholah dan tukang becak.

“Saya senang sekali jika ada kawan yang mengajak makan. Kadang saya bersama kawan lainnya berkunjung kerumah kawan wanita. Saya sengaja mengantongi satu bungkus mie instan. Nah, disitu saya minta tolong direbuskan, dengan harapan yang keluar bukan hanya mie rebus tapi juga ada nasi dan lauk lainnya,” kenangnya sambil tersenyum.

Tekadnya untuk terus sekolah tak pernah surut. Namun ketika Rajab mendaftarkan diri untuk program Doktor (S3) di Makassar, Rajab dinyatakan tidak lulus sehingga perjalanan studinya terhenti.

“Tahun 2008 saya selesai S2 dan sempat tes di program S3 Unhas namun belum lulus. Pada kesempatan itulah ibu saya menganjurkan untuk bekerja dulu. Alhamdulillah do’a orang tua di kabulkan oleh Allah, tahun 2009 saya lulus PNS,” lanjutnya.

“Setelah 5 tahun bekerja, pada tahun 2014 saya nekat kembali untuk mengambil program Doktor (S3) di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, mewujudkan cita-cita saya untuk menjadi doktor dan menyelesaikan puncak tertinggi saya di bidang akademik,” ujarnya.

Sebagai salah satu putra terbaik Buton Utara, Rajab diberi kesempatan oleh Pemda  Butur dalam rangka peningkatan kualitas sumber daya aparatur sipil negara melalui program beasiswa Pemda Kab. Butur. Akhirnya Rajab pun diterima di UHO dalam program Doktor Manajemen Pemasaran. Selama menjalani perkuliahan, Rajab yang juga sebagai PNS di Buton Utara harus bolak balik Kendari-Buton Utara menempuh perjalanan ratusan kilometer dengan menggunakan sepeda motor.

“Karena pada masa itu belum ada kapal Ferry, jadi kita naik katinting. Disini kita harus memikul motor untuk bisa naik ke katinting atau saat turun dari katinting,” ujarnya.

“Sesekali dalam setiap kesendirianku, selalu meneteskan air mata merenungkan nasib, tapi semua itu ada hikmah besar yang di berikan oleh Allah ketika kita mengurus agama Allah,” kenangnya.

Disertasi Rajab berjudul “Pengaruh Strategi Pemasaran dan Faktor Sosial Budaya Dalam Penggunaan Alat Kontrasepsi Pada Pasangan Usia Subur di Kabupaten Buton Utara” di Wisuda pada 19 Agustus 2020 dan berhasil meraih gelar Doktor dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,62 (sangat memuaskan).(ema)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait


Back to top button
Close