EKONOMI

Budidaya Abalon Dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pesisir Pasca Pandemi Covid 19


Kendari, OborSultra.com – Dalam rangka implementasi tugas tri darma dosen yaitu pengabdian kepada masyarakat, tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo melaksanakan Program Kemitraan Masyarakat (PKMI) dalam rangka pemulihan ekonomi masyarakat pesisir pasca pandemi Covid-19.

Kegiatan yang diberi judul ‘Pemulihan Ekonomi Masyarakat Pesisir Pasca Pandemi Covid-19 melalui Usaha Budidaya Abalon terintegrasi dengan Ikan Laut Ekonomis di Desa Bokori Kabupaten Konawe Sulawesi Tenggara’ ini dilaksanakan selama 2 bulan (25 September-25 November 2020) dengan 3 tujuan, yakni optimalisasi lahan karamba tancap menjadi sarana budi daya yang menggabungkan usaha pembesaran abalon dengan usaha pembesaran ikan-ikan laut ekonomis, mendesain dan membuat rumah abalon yang terintegrasi dengan karamba tancap serta penerapan sistem kelola yang tepat dalam manajemen kelompok nelayan.

Bertindak sebagai ketua tim, Dr. Ermayanti Ishak, S.Pi, M.Si, dengan kualifikasi bidang keahlian ekobiologi sumberdaya perairan, anggota tim pelaksana 1, Dr. Andi Besse Patadjai, M.Sc, dengan kualifikasi bidang keahlian Teknologi Hasil Perikanan, anggota tim pelaksana 2, Disnawati, S.Pi, M.Si, dengan kualifikasi bidang keahlian budidaya perairan serta Dr. Latifa Fekri, S.Pi, M.Si, selaku anggota tim pelaksana 3, dengan kualifikasi bidang keahlian Manajemen Sumberdaya Perairan.

Ket. foto: Budidaya Abalon dalam karamba, desa Bokori, Konawe.(foto: Ermayanti).

Menurut Ermayanti, berbagai potensi sumber daya alam yang dimiliki perairan pesisir Kab. Konawe memacu meningkatnya usaha pembesaran dan budidaya beberapa organisme laut, seperti kelompok ikan (ikan kerapu bebek, ikan putih) dan kelompok non ikan (keong abalon). Di pesisir desa Bokori hampir sebagian besar masyarakatnya berprofesi sebagai nelayan. Kestabilan pendapatan masyarakat nelayan cenderung dipengaruhi oleh hasil dari usaha perikanan yang mereka tekuni.

“Saat ini kita berada dimasa pandemi Covid-19, sehingga berbagai permasalahan ekonomi dan sosial muncul di tengah masyarakat, termasuk masyarakat pesisir di Desa Bokori. Sektor perikanan menjadi salah satu sektor yang ikut terdampak oleh pandemi tersebut. Masyarakat pesisir Bokori yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan, kini semakin merasakan dampak negatif akibat merebaknya wabah COVID-19,” tulis Ermayanti dalam rilisnya yang diterima OborSultra.com, Minggu (22/11/2020).





Ia menambahkan, dampak yang paling terasa adalah turunnya pendapatan harian yang biasa didapat nelayan dari hasil menangkap ikan di laut dan hal tersebut mengancam keberlangsungan hidup mereka. Pesisir desa Bokori yang memiliki kondisi lingkungan perairan, sangat mendukung untuk dijadikan lokasi budi daya jenis ikan laut ekonomis bahkan budi daya keong abalon.

Baca Juga:

Abalon atau yang dikenal masyarakat lokal dengan sebutan mata tujuh merupakan salah satu jenis gastropoda (keong) laut bersifat herbivora dan memiliki nilai jual tinggi. Harga abalon hidup di pasar internasional (ekspor) berkisar antara US$ 22-66 per kg, sedangkan di pasar lokal (domestik), harganya berkisar antara Rp. 50.000-150.000 per kg. Abalon yang telah diolah kering (tanpa cangkang) berkisar antara Rp. 200.000-300.000 per kg, jika telah diolah (salted and dried), harganya dapat mencapai US$ 125 per kg.

Ket. foto: Keong Abalon (mata tujuh).

“Perairan pesisir desa Bokori memiliki potensi, baik sebagai penyedia bibit ikan laut ekonomis maupun bibit abalon (ukuran juvenil). Tentunya ditunjang oleh kondisi perairan pesisir yang baik yang menunjang usaha budidaya. Kebutuhan bibit untuk usaha budidaya, dapat dengan mudah diperoleh nelayan tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Transfer pengetahuan pada kelompok nelayan mengenai sistem budidaya gabungan organisme yang dipelihara sangat dibutuhkan, agar produk hasil PKMI ini berkelanjutan dan memberi nilai guna di masa-masa krisis,” jelas Ermayanti.

Baca Juga: Peroleh Akreditasi A, Fakultas Hukum UHO Kendari Siapkan Diri Ke Peringkat Unggul

Dosen FPIK ini juga menambahkan, memaksimalkan pemanfaatan lokasi tempat tinggal nelayan setempat, salah satunya dengan membuat karamba tancapyang tidak hanya membudi daya satu jenis biota laut saja, tetapi mencoba untuk menggabungkannya dengan jenis biota lainnya. Usaha budi daya karamba tancap dipilih sebagai salah satu alternatif mengurangi dampak negatif pandemik.

“Solusi ini menjadi mudah dilakukan karena masyarakat nelayan di desa Bokori sangat membutuhkan solusi cerdas memulihkan ekonomi pasca pandemi Covid-19. Disamping itu, anggota dari kelompok sasaran yang dilibatkan, rata-rata pernah mengenyam pendidikan formal, berada di usia produktif, dan memiliki keinginan serta semangat yang kuat untuk mandiri,” tambahnya.

Cakupan kegiatan yang dilakukan tim dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Universitas Halu Oleo adalah pembuatan karamba tancap untuk pembesaran ikan laut ekonomis dan pembuatan rumah abalon yang terintegrasi dengan karamba tancap. Kegiatan ini untuk upaya pembesaran 2 (dua) spesies organisme laut yaitu ikan laut ekonomis (jenis ikan putih/Caranx sp.) dan abalon jenis Haliotis asinina.

Output dari kegiatan PKMI ini, sebagai tabungan nelayan dimasa paceklik dan diharapkan dapat memberi dampak yang signifikan terhadap meningkatnya produksi dan pendapatan, utamanya kelompok nelayan sasaran.

“Capaian yang dapat diperoleh dari kegiatan ini adalah tingginya partisipasi kelompok nelayan sasaran dalam menyukseskan pelaksanaan program PKMI, peningkatan kualitas sumber daya manusia khususnya kelompok sasaran dengan adanya transfer teknologi. Selain itu, secara ekonomi telah terjadi kenaikan produksi dan pendapatan yang siginifikan dengan adanya karamba yang membudidaya organisme laut yang multispesies tersebut,” tutup Ermayanti.(*ema)


Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close