HUKUM

Sakit Hati Kepada Mantan Istri, Alasan MU Hina Sukunya Sendiri


Kendari, OborSultra.com – Polda Sulawesi Tenggara (Sultra) menangkap seorang pria berinisial MU, terduga pelaku penghinaan suku melalui unggahan di media sosialnya. Unggahan tersebut sempat menghebohkan warga dan memicu demonstrasi berujung rusuh di Kota Kendari, Kamis pekan lalu. MU ditangkap TIM Direktorat Kriminal Khusus Polda Sultra di kediamannya di Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Jumat (18/9/2020).

Dari hasil pemeriksaan Polisi, MU sengaja membuat tulisan penghinaan mengandung SARA di media sosial dengan motif karena sakit hati pada mantan istrinya.

Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dir Reskrimsus) Polda Sultra, Kombes Pol Heri Tri Maryadi mengucapkan terima kasih kepada organisasi dalam hal ini Lembaga Adat Tolaki (LAT) yang telah intens menyoroti dan membantu untuk mengidentifikasi akun-akun palsu yang menyebarkan kebencian atas nama suku di media sosial (medsos).

“Dengan cepat berkoordinasi dengan kami (penyidik), sehingga memproses dengan alat yang kita punya. Dengan melakukan profaling dan cek pos sehingga yang bersangkutan bisa ditangkap,” ucap Heri Tri Maryadi dihadapan awak media, di Mapolda Sultra, Selasa 22 September 2020.

Kata Hari, dari hasil pemeriksaan ditemukan dua alat bukti berupa akun jejak digital dan satu unit handphone serta keterangan saksi-saksi yang mengetahui soal postingannya di medsos.





“Postingan itu sejak 7 September, dilapor di Polda Sultra, 16 September 2020. Pelapor adalah mantan istrinya, ia melapor setelah dia tahu kalau akunnya yang dipakai mantan suaminya dan buat postingan itu di medsos,” bebernya.

Hari mengaku, tujuan pelaku menyebar konten negatif yang menghina sukunya sendiri di media sosial agar mantan istrinya itu mendapatkan sanksi sosial. “Padahal, pelaku ini juga orang Tolaki. Jadi motifnya hanya karena sakit hati saja dengan mantan istrinya,” imbuhnya.

Hari berpesan, masyarakat di Bumi Anoa agar bijak dalam menggunakan media sosial. Hal itu, demi terciptanya keamanan bersama. “Kami selalu berkoordinasi, sekaligus bekerja sama untuk saling menjaga bersama-sama dan mengungkapan akun palsu serta tidak melakukan tindakan sendiri,” pungkasnya.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tersangka disangkakan pasal 45 junto pasal 28 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dengan ancaman 6 tahun penjara.(*ade)


Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Back to top button
Close