DAERAH

Kadis Pertanian Butur : Faktor Alam Salah Satu Penyebab Petani Jagung di Butur Gagal Panen


Buranga, OborSultra.com – Ancaman gagal panen bagi petani jagung di Kabupaten Buton Utara disebabkan oleh beberapa faktor baik faktor alam, faktor manusia maupun faktor lingkungannya, hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Butur Sahrun Akri, SP., M.Si, Minggu (26/01/2020).

“Memang petani jagung di Kabupaten Buton Utara saat ini sedang mengalami masa sulit dimana tanaman jagung mereka terancam gagal panen akibat serangan ulat grayak. Sebenarnya sejak ada serangan ulat grayak awal bulan Januari yang lalu kami sudah melakukan langkah langkah pencegahan dengan memerintahkan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) untuk melakukan pengamatan terkait hama tersebut,” ungkapnya.

Baca juga: Kembangkan Pertanian Organik, Bupati Koltim Serahkam Bantuan POC

Sahrun menyampaikam, pihaknya telah melakukan koordinasi dengan petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Sulawesi Tenggara.

“Petugas POPT sejak awal sudah melakukan langkah langkah pengendalian hama ulat grayak dengan menggunakan aplikasi pestisida Sidatan, namun karena keterbatasan stok sehingga sampai saat ini kami masih menunggu obat obatan dari BPTPH Provinsi. ” ujarnya.





Ia juga menambahkan, salah satu faktor yang mempengaruhi munculnya hama ini adalah cuaca. “Pada musim hujan, hama ini sangat cepat pertumbuhannya, sehingga pengendaliannya harus menerapkan metode Pengendalian Hama Terpadu (PHT),” tutupnya.

Baca juga: 3 Desa di Kabupaten Buton Utara Gelar Pelatihan Pestisida Nabati, Dukung Program “Butur Kabupaten Organik”

Sementara itu, tim ahli pertanian organik Kabupaten Butur, Cinda Musyida mengatakan bahwa untuk mengendalikan ulat grayak ini juga dapat diterapkan sistim pengendalian secara kultur teknis, pengendalian fisik dan mekanik, pengendalian secara hayati serta perawatan intensif terhadap tanaman.

“Pengendalian secara kultur teknis, melalui pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang atau tanam serempak dengan selisih waktu antara tanam awal dan tanam akhir tidak lebih dari 10 hari. Pengendalian fisik dan mekanik dilakukan dengan cara mengumpulkan dan mematikan kelompok telur, ulat stadia 1-2 yang masih berkelompok dan ulat stadia 4-6 yang terletak pada permukaan bawah daun pada bagian atas tanaman.” ujar Cynda.

 

Cynda mencontohkan beberapa jenis musuh alami yang dapat digunakan sebagai agens hayati adalah Nuclear Polyhedrosis Virus (NPV). Spodoptera litura Nuclear Polyhedrosis Virus (SlNPV) merupakan salah satu virus yang dapat menyerang ulat grayak. Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa SlNPV berpotensi dikembangkan untuk mengendalikan ulat grayak.

“Ada SlNPV sebagai salah satu agens hayati yang efektif dan dapat diformulasikan serta dapat diproduksi secara in vivo (dengan menginfeksi ulat grayak), maka SlNPV layak dikembangkan sebagai bioinsektisida,”

Cynda menghimbau agar petani juga melakukan perawatan tanaman secara intensif dan berkala dan ini sangat diperlukan karena seringkali dengan meningkatnya harga pupuk dan pestisida petani telat untuk melakukan perlakukan terhadap tanaman yang mengakibatkan terlambatnya penanganan terhadap penyebaran hama dan penyakit.(*ema)


Tinggalkan Balasan

Back to top button
Close