fbpx
NASIONAL

Dr Erlina Burhan: Rapid Test Kit Yang Dibeli Pemerintah Bukan Untuk Diagnosis Corona


Jakarta, OborSultra.com – dr. Erlina Burhan Dokter Spesialis Paru RSUP Persahabatan dalam acara ILC menyampaikan bahwa Rapid Test yang dibeli Pemerintah bukan untuk diagnosis virus corona baru.

Dalam keterangannya dr. Erlina menyampaikan bahwa Rapid test serologi yang dibeli bukan untuk diagnosis, yang mana artinya tidak untuk diagnosis Covid-19 melainkan untuk melihat apakah sudah ada antibodi.


Baca juga : Bali Tutup Seluruh Akses, “Lockdown” Mulai Diberlakukan

“Saya ingin katakan kembali, rapid test serologi yang dibeli itu bukan diagnosis, <…>. Ingin saya sampaikan rapid test ini tidak untuk diagnosis tapi untuk melihat apakah sudah ada antibodi. (zat yang dibentuk untuk memusnahkan bakteri atau virus yang berada di dalam darah-Red),” Kata dr. Erlina

Baca Juga:

Dijelaskan dr. Erlina, antibodi terbentuk jika ada gejala Covid-19, apabila tidak ada gejala kemudian diperiksa rapid test maka tentu saja hasilnya seolah-olah akan negatif, karena orang dalam masa inkubasi diperiksa juga tidak akan ke-detect karena antibody nya belum terbentuk.

“Nah diingat lagi, antibodi ini terbentuk kalau ada gejala, kalau orang tidak bergejala diperiksa rapid test negatif, nah kalau seseorang dalam masa inkubasi diperiksa rapid test serologi yang antibodi ini belum ter-detect, jadi seolah-olah negatif, itu kita sebut negatif palsu,” kata dr Erlina

Berkemungkinan masyarakat yang sudah melaksanakan rapid test (dalam masa inkubasi) yang hasilnya negatif palsu merasa senang dan pergi keluar “padahal dalam masa inkubasi” dan ketika bergejala menjadi carier menularkan kepada masyarakat lainnya.

Baca juga : Imbas Covid-19 Terhadap Penjualan Produk Organik Buton Utara

Menurut dr. Erlina yang dilakukan pemerintah saat ini menggunakan Rapid test serologi memakan waktu yang panjang dan boros biaya.

Pada Senin 2 Maret 2020, Presiden Jokowi mengumumkan dua warga Indonesia Positif COVID-19, Per 24 Maret 2020 sebanyak 686 orang sudah terinfeksi di Indonesia, dan 55 orang telah meninggal serta 30 orang telah sembuh.(**ade)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait

Back to top button
Close