HUKUM

Tim Dosen Fakultas Hukum UHO Adakan Penyuluhan Kepada Nelayan Kecil Di Kab. Konsel


Kendari, OborSultra.com – Tim dosen Fakultas Hukum Universitas Haluoleo Kendari melakukan penyuluhan hukum kepada masyarakat nelayan desa Lambangi Kecamatan Kolono Timur Kabupaten Konawe Selatan, belum lama ini.

Penyuluhan hukum dengan tema Perlindungan Terhadap Nelayan Kecil Dan Nelayan Tradisional Dalam Pemanfaatan Wilayah Ruang Tangkapan kali ini, bertindak sebagai ketua tim adalah St. Muslimah Suciati, SH., MH, dan Endah Widyastuti, SH., MH, serta Arfa, SH., MH., sebagai anggota tim.

Wawancara OborSultra.com dengan ketua tim pelaksana penyuluhan, St. Muslimah Suciati, SH, MH, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi tugas tri darma dosen yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat.

“Kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi tugas tri darma dosen yaitu Pengabdian Kepada Masyarakat, merupakan kegiatan pengabdian internal Universitas Halu Oleo bermitra dengan pemerintah daerah kabupaten Konawe Selatan, yaitu di desa Lambangi,” katanya.

 

“Penyuluhan hukum tentang perlindungan terhadap nelayan kecil dan nelayan tradisional dalam pemanfaatan wilayah ruang tangkapan sangat diperlukan untuk membangun pemahaman masyarakat akan hak-hak dan kewajiban sesuai dengan peraturan perundangan-undangan yang berlaku,” tambahnya.

Menurut Suci, kegiatan penyuluhan hukum dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran hukum bagi masyarakat nelayan akan hak dan kewajibannya dalam pemanfaatan wilayah ruang tangkapan ikan di laut.

“Kegiatan penyuluhan hukum dimaksudkan untuk meningkatkan kesadaran hukum bagi masyarakat nelayan akan hak dan kewajibannya dalam pemanfaatan wilayah ruang tangkapan ikan di laut, serta memberikan pemahaman kepada masyarakat nelayan terkait perlindungan yang dijamin oleh undang-undang dalam pemanfaatan wilayah ruang tangkapan khususnya bagi nelayan kecil dan nelayan tradisional yang menjadi sasaran dalam peningkatan ekonomi masyarakat setempat,” ujarnya.

“Kabupaten Konawe Selatan, mempunyai potensi sumberdaya kelautan dan perikanan yang melimpah, namun pemanfaatannya belum optimal di manfaatkan sebagai salah satu sumberdaya yang menjadi sumber pendapatan masyarakat setempat. Beberapa potensi perikanan yang dimiliki Konawe Selatan yaitu bidang budidaya, perikanan tangkap dan pemberdayaan atau pengolahan perikanan masih terlihat sepi, sehingga belum memberikan kontribusi cukup berarti dalam meningkatkan kesejahteraan nelayan kecil maupun nelayan tradisional,” lanjut Suci.

Ditambahkan oleh Suci, bahwa konflik sering terjadi antara nelayan kecil yang berupaya mempertahankan hak kelolanya dengan nelayan yang menggunakan alat tangkap modern (trawl) yang melakukan penangkapan ikan di wilayah laut yang menjadi jalur penangkapan ikan bagi nelayan kecil.

“Disini konflik sering terjadi antara nelayan kecil yang berupaya mempertahankan hak kelolanya dengan nelayan yang menggunakan alat tangkap modern (trawl) yang melakukan penangkapan ikan di wilayah laut yang menjadi jalur penangkapan ikan bagi nelayan kecil. Konflik tersebut muncul ketika ruang kelola nelayan kecil dan nelayan tradisional tergeser oleh aktivitas nelayan modern yang menggunakan teknologi yang lebih maju dalam budi daya atau penangkapan ikan,” ungkapnya.

“Umumnya nelayan tradisional dan nelayan kecil, selain terbatas dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi budi daya dan pengolahan hasil tangkapan, juga sangat terbatas permodalannya. Karenanya, sulit mengembangkan usaha karena kalah bersaing dengan nelayan modern yang menggunakan kapal penangkapan ikan dengan penggunaan teknologi penangkapan ikan lainnya,” terang Suci.

Sebagai penutup, Suci memberikan beberapa hal yang urgen yang dapat ditindak lanjuti oleh pemerintah dalam peningkatan produktivitas dan sumber daya masyarakat nelayan.

“Untuk itu, hal yang sangat urgen sekarang untuk menjadi prioritas adalah melakukan pemberdayaan terhadap nelayan sekaligus meningkatkan kesejahteraannya, yaitu antara lain:

  1. Pemerintah perlu memberikan bantuan permodalan dan sarana kerja yang memadai agar dapat meningkatkan produksi dan produktivitas usaha nelayan, sehingga mereka bisa mengembangkan usaha seperti yang diharapkan.
  2. Perlunya dilakukan rehabilitasi lingkungan pesisir yang rusak. Jika hal tersebut dibiarkan dikhawatirkan dapat berakibat selain semakin rusaknya lingkungan pesisir laut, sumber daya perikanannya juga akan semakin berkurang, padahal jumlah nelayan justru terus bertambah banyak.
  3. Pembinaan dan penyuluhan yang diberikan kepada nelayan harus disesuaikan dengan kebutuhan sehingga apa yang disuluhkan benar-benar bermanfaat dan bisa diaplikasikan, agar dapat lebih meningkatkan kemampuan dan kemandirian nelayan.
  4. Peningkatan kemampuan sumber daya manusia nelayan yang dilaksanakan melalui program yang baik, konsisten, dan berkesinambungan agar dalam waktu tidak terlalu lama para nelayan tradisional yang serba kekurangan bisa menjadi nelayan modern seperti yang diharapkan.
  5. Pengawasan yang ketat terhadap tindakan-tindakan penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan tindakan tegas bagi para pelakunya oleh pihak yang berwenang,” tutup Suci.

Hadir dalam kegiatan tersebut, kepala desa Lambangi, Askar, sekretaris desa serta masyarakat nelayan desa Lambangi.(ema)

Tinggalkan Balasan

Berita Terkait


Back to top button
error: Content is protected !!
Close