NASIONAL

15 Hari Terombang-ambing di Tengah Laut, Nelayan Asal Sulsel Ditemukan di Selat Bali

"Bertahan selama 15 Hari hanya dengan meminum air hujan"


Karangasem, OborSultra | Nelayan bernama Sumaila Sikki (63) asal Pangkajene Kepulauan (Pangkep) Sulawesi Selatan, terombang-ambing di perairan selat Bali tepatnya di daerah Tulamben, Karangasem, Bali. Nelayan ini sudah 11 hari berada di tengah lautan.

Sumaila Sikki ditemukan oleh nelayan dari Banjar Dinas Batudawa Kelod, Desa Tulamben, Kecamatan Kubu, Kabupaten Karangasem, oleh I Komang Sukarta (36) di rumpon ikan miliknya di tengah laut. Sukarta menemukan nelayan tersebut pada Senin (28/6/2021) sekitar pukul 14.00 Wita.


“Korban berada di perairan hanya mengkonsumsi air hujan karena semua perbekalan yang dibawa sudah habis,” kata Kasat Polairud Polres Karangasem AKP I Gusti Bagus Agung Suteja, S.I.P, MH kepada Mitra Humas.

Baca Juga:

Suteja mengatakan nelayan tersebut awalnya melaut dan memancing dengan menggunakan perahu.

“Namun kapal korban mengalami patah as mesin sehingga perahunya tidak lagi bisa dikendalikan, kondisi itu akhirnya menyebabkan nelayan itu terombang-ambing di tengah lautan selama 15 hari dan akhirnya sampai di sebuah rumpon ikan milik nelayan di Desa Tulamben Karangasem.

Sumaila Sikki akhirnya ditarik ke daratan dengan perahu nelayan milik I Komang Sukarta.

Situasi dan kondisi korban saat itu mengalami depresi dan kondisi korban kurang sehat karena kekurangan makan,” terang Suteja.

Farhana Mallawangan Ucapan Munas Kadin
#OB/8/JU21

Lebih lanjut Kasat Polairud mengatakan pihaknya telah menempatkan nelayan tersebut di rumah penduduk setempat dan berkoordinasi dengan petugas asal korban.

Pihaknya juga melakukan koordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Karangasem terkait pemulihan kondisi korban dan untuk pemulangan ke alamat nelayan tersebut.

Sumaila mengaku berlayar di Pulau Satanger untuk mencari ikan. Tiba-tiba angin kencang datang.

“Setelah itu datang kencang angin. Saya, hidupkan mesin dan jalan dari pulau-pulau sudah mati mesin. Mau dayung tidak bisa, mau ke mana-mana tidak bisa, karena arusanya kencang. Saya naikkan layar dan saya tidak tahu kemana ini. Saya ikuti angin, saya ikuti arus. Ada sekitar 11 hari,” kata Sumaila, Selasa, 29 Juni.

Selama terombang-ambing di tengah laut, Sumaila bertahan dengan meminum air hujan dan memakan beras mentah yang dicampur air hujan.

“Minum air hujan, karena kehabisan. Hujan tiga kali dalam satu hari maka saya ambil terpal saya simpan di atas sampan saya itu. Baru ambil airnya dan saya masukan botol Aqua baru saya minum,” ujarnya.

“Makan beras mentah karena lapar. Kopinya sudah habis untung ada air hujan, kalau tidak ada air hujan sudah mampus. (Beras mentah), iya dicampur supaya lembek, itu ada piring jadi supaya hancur,” terang Sumaila.



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker