EKONOMI

Pariwisata Bali Kritis!, 2.000 Kendaraan Pariwisata Sudah Ditarik Leasing


Denpasar, OborSultra | Pariwisata Bali yang semula hanya megap-megap, kini mati suri karena pandemi Covid-19. Salah satu yang paling terdampak adalah angkutan pariwisata. Perusahaan angkutan turis itu terkendala persoalan keuangan karena tidak ada permintaan, sehingga banyak pengusaha tidak bisa membayar cicilan pembayaran kendaraan. Alhasil banyak bus dan microbus (Elf dan Hiace) yang diangkut balik bahkan dijual paksa oleh pihak leasing.

Seperti yang diungkapkan salah satu Anggota Persatuan Perusahaan Angkutan Pariwisata Bali (PAWIBA) Bidang Umum dan Media, Wayan Thomas B, menjelaskan saat ini tekanan pengusaha angkutan pariwisata bukan hanya dari pandemi, tapi juga dari perusahaan leasing dan bank. Karena sampai saat ini telah banyak menarik unit kendaraan pariwisata di Bali.


“Kami berupaya dengan berbagai cara untuk dapat mempertahankan keberadaan kendaraan pariwisata kami, namun sudah tidak bisa lagi. Hal ini sudah disampaikan ke tingkat DPRD dan Kemenparekraf juga pemerintah daerah,” kata Thomas, dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (28/6/2021).

Baca Juga:

Hingga saat ini kendaraan pariwisata yang dimiliki anggota PAWIBA mencapai 2.500, tapi saat ini hanya tersisa kurang dari 500 unit saja. Menurut Thomas dengan agenda persiapan pembukaan pariwisata di Bali, pelaku usaha harus mempersiapkan diri saat permintaannya naik. Atau paling tidak bertahan sampai pariwisata di Bali kembali bergeliat.

Hanya saja sampai saat ini dari sisi pembiayaan masih belum terbantu. Thomas mengatakan sudah ada anjuran dari pemerintah untuk kemudahan restrukturisasi pembiayaan dari leasing atau perbankan. Tapi itu belum cukup karena kemudahan yang diberikan hanya memperpanjang keringanan waktu pembayaran saja hingga enam bulan.

“Presiden mengatakan ada kemudahan restrukturisasi, tapi penerapanya di bawah bukan untuk membangun ulang kredit. Tapi menumpuk dan memberi keringanan hingga enam bulan, lalu pada bulan ke tujuh pembayaran dilipat gandakan,” katanya. Sementara pendapatan tidak ada, membuat perusahaan tidak bisa membayar angsuran itu.

“Mereka menawarkan jual paksa mobil itu untuk pembayaran. Tapi nanti jika Bali kembali ramai kita sama seperti membuka kacang gak ada isinya. Apa yang jadi alat operasional,” tambahnya.

Menurut Thomas saat ini solusi yang diinginkan pelaku usaha adalah bantuan kemudahan pembiayaan. Juga menghentikan penarikan kendaraan dari leasing. Hal ini yang seharusnya menjadi topik pembicaraan dengan Gubernur Bali hari ini di Denpasar, walaupun batal.

“Gubernur masih menghindar bertemu kita untuk mencari solusi pengusaha akan hal ini dan persiapan pariwisata di Bali. Ini yang kita kejar bantuan dari Pemda,” kata Thomas.

“Salah satunya ya meminta bantuan terkait penghentian penarikan secara brutal untuk kendaraan pariwisata dari leasing dan bank, kondisi kita sudah habis,” tambahnya.

Thomas mengatakan Pemerintah Daerah (Pemda) bisa membantu dengan cara adanya surat rekomendasi dari Gubernur ke perusahaan leasing dan bank supaya memberi kemudahan adanya jalur khusus untuk membangun ulang kredit. Tidak memakai status Kol. 4 atau tercatat sedang memiliki tunggakan yang sudah jatuh tempo.(stj/day)



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terkait

Back to top button
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker